Gunung Merapi, Ancaman dan Peluang

oleh -783 Dilihat
Ovie Pratama Wijaya.(Foto: istimewa)

 

  • Gunung Merapi menjadi sumber kehidupan, menggerakkan perekonomian masyarakat.
  • Ekonomi kreatif bukan semata-mata mengenai aplikasi digital atau gaya hidup modern.
  • Di tangan individu kreatif, ancaman bisa berubah menjadi sumber kesejahteraan.

 

BAGI penduduk yang tinggal di kota, ungkapan “Gunung Merapi Level Siaga” merupakan tanda untuk menjauh dari area tersebut. Awan panas, hujan abu yang menyengat, dan lava yang mengalir ke sungai cukup pada saatnya membuat orang merasa terdesak dan mencari perlindungan.

Tetapi, bagi para pelaku usaha kecil di lereng Merapi, mulai dari petani kopi di Cangkringan hingga pemilik usaha jip di Kaliurang, gunung berapi paling aktif itu bukan sekadar ancaman. Merapi menjadi sumber kehidupan. Ia menggerakkan perekonomian masyarakat.

Apabila kita jelajahi arah utara dari Yogyakarta, akan menemukan kondisi ekonomi yang menarik. Di tempat tersebut, ancaman bencana dan kesempatan usaha berjalan berdampingan, dalam keselarasan yang tidak mudah dijelaskan dengan teori ekonomi biasa.

Di kawasan itu pula, yang secara administrasi termasuk dalam Zona Rawan Bencana III (KRB III), kegiatan ekonomi berkembang sangat dinamis.

Fenomena Kopi Merapi

Mari kita lihat fenomena Kopi Merapi. Para petani meyakini setiap biji kopi yang mereka petik memiliki nutrisi yang berasal dari material vulkanik. Kesuburan tanah akibat abu vulkanik memberikan rasa unik pada varietas kopi Arabika dan Robusta lokal.

Cerita tentang bencana berubah menjadi daya tarik penjualan. Mereka tidak menawarkan rasa takut, tetapi menunjukkan ketahanan dalam secangkir kopi yang tumbuh di tanah yang pernah terbakar.

Bagi para perajin batu dan produsen material bangunan, sepanjang sungai merupakan sumber penghasilan. Sementara itu, warga kota melihat aliran lava yang membeku sebagai bencana yang siap merusak apa saja. Bagi penambang pasir dan usaha kecil menengah sektor konstruksi, hal ini justru dianggap sebagai berkah dari langit.

Pasir dari Gunung Merapi diakui sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Dan ini telah menghasilkan ekosistem UMKM yang luas, mencakup bengkel alat berat, layanan transportasi, hingga artis batu yang menghasilkan karya, bahkan ekspor ke luar negeri.

Masyarakat memanfaatkan puing-puing bencana menjadi produk yang bernilai ekonomis. Bencana tidak lagi dilihat sebagai akhir, melainkan siklus pembaruan sumber daya.

Pariwisata Berbasis Ketahanan

Salah satu perubahan ekonomi yang paling signifikan setelah terjadinya letusan vulkanik besar tahun 2010 adalah kemunculan tur lava. Bisnis kecil dan menengah yang menyediakan layanan wisata jip merupakan contoh masyarakat berhasil mengalihkan kesedihan menjadi daya tarik.

Saat ini, ribuan kendaraan jip beroperasi di lereng Merapi, tidak hanya membawa pengunjung ke lokasi bekas letusan gunung. Tetapi juga menyampaikan cerita tentang usaha bertahan hidup.

Para pengemudi adalah mantan peternak yang kehilangan hewan peliharaan akibat erupsi, kini berperan sebagai duta pariwisata. Mereka berbagi cerita mengenai setiap inci tanah yang terbakar dengan penuh penghormatan kepada gunung.

Ekonomi kreatif bukan semata-mata mengenai aplikasi digital atau gaya hidup modern, melainkan tentang bagaimana mengemas pengalaman dan emosi menjadi layanan yang berkelanjutan.

Dilema di Balik Keuntungan

Namun demikian, menjalankan sebuah bisnis di atas “bom waktu” menciptakan dilema serius. Pertanyaan yang sering muncul, berapa lama mereka bisa bertahan?

Pemerintah secara rutin memberikan peringatan awal melalui BPPTKG, tetapi kekhawatiran terkait kebutuhan sehari-hari sering kali lebih terdengar dibandingkan sirene peringatan.

Di sinilah tantangan utama bagi UMKM lereng Merapi pada tahun 2026. Digitalisasi menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Banyak usaha kecil dan menengah mulai menyadari pentingnya bisnis berbasis cloud.

Mereka memanfaatkan platform digital untuk pemasaran serta penyimpanan data. Kenapa? Agar usaha mereka tidak hilang ketika Merapi meletus. Pelanggan tetap dapat memesan kopi atau kerajinan tangan secara online, sementara persediaan barang di gudang yang berada di luar zona berbahaya (KRB I atau II) tetap terlindungi.

Digitalisasi lebih dari sekadar tren, melainkan bagian dari strategi kesiapsiagaan terhadap bencana. Dengan adanya penjualan melalui berbagai saluran, ketergantungan pada toko fisik yang berada di daerah berisiko dapat diminimalisir.

Inilah ekonomi kreatif yang berbasis pada risiko, model bisnis yang memahami bahwa lokasi usaha dapat lenyap dalam sekejap, namun merek dan hubungan dengan pelanggan harus tetap eksis di ranah digital.

Keberlanjutan Usaha Rakyat

Keberhasilan UMKM area lereng Merapi tidak dapat dipisahkan dari kearifan lokal “nrimo ing pandum”, yang dipadukan dengan nilai-nilai “gemi, setiti, ngati-ati”. Mereka menerima anugerah yang diberikan oleh alam dengan sikap terbuka, hati-hati dan perencanaan matang.

Masyarakat setempat memiliki kepekaan tinggi terhadap tanda-tanda alam, serta penerapan kearifan lokal yang melengkapi alat teknologi mutakhir dari pemerintah.

Keterkaitan antara komunitas Merapi dan gunung yang mereka tinggali merupakan hubungan simbiosis yang telah ada sejak lama. Gunung memberikan kesuburan, bahan bangunan, dan daya tarik wisata.

Sebagai imbalan, masyarakat harus siap untuk memberi ruang ketika gunung merasa perlu ”bernapas”. Di sini, UKM dan UMKM yang mampu bertahan adalah mereka yang menghindari perlawanan terhadap alam, melainkan mengikuti ritme aktivitas vulkanik Gunung Merapi.

Pelajaran dari Kaki Gunung

Sejarah UMKM Merapi memberikan wawasan berharga tentang ketahanan bangsa Indonesia. Meskipun kita sering mengeluhkan birokrasi atau koneksi internet lambat namun tidak demikian dengan masyarakat Merapi. Di sana, ketakutan akan kehilangan harta benda dan nyawa tidak menghentikan upaya untuk berinovasi.

Mereka membuktikan ekonomi kreatif mampu beradaptasi dan ancaman yang berpotensi merusak tidak selalu berujung pada kehancuran. Di tangan individu kreatif, ancaman bisa berubah menjadi sumber kesejahteraan.

Selama asap solfatara masih mengepul dari puncak gunung, semangat kreatif masyarakat Merapi akan terus berkobar, lebih hebat daripada setiap erupsi yang pernah terjadi.

Hidup berdampingan dengan Merapi memberikan pelajaran yang berharga bagi semua pelaku ekonomi. Kepastian hanyalah ilusi dan kemampuan untuk beradaptasi merupakan satu-satunya cara untuk memastikan kelangsungan hidup.

  • Penulis, Ovie Pratama Wijaya, Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta.

No More Posts Available.

No more pages to load.