DI TENGAH gejolak pasar keuangan, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian global yang makin kompleks, Indonesia menghadapi tantangan komunikasi ekonomi yang belum tertangani secara optimal.
Data ekonomi boleh saja stabil, neraca fiskal bisa dijaga di bawah tiga persen dari PDB, dan cadangan devisa tetap tinggi, namun satu elemen penting seringkali luput dari perhatian yakni narasi publik.
Dalam situasi seperti ini, Indonesia membutuhkan seorang juru bicara ekonomi nasional, figur yang mampu menjembatani kebijakan teknis dengan pemahaman publik dan persepsi pasar.
Pasar Membaca
Pasar tidak bergerak hanya karena angka. Ia merespons ekspektasi, persepsi, dan sinyal.
Ketika pemerintah atau bank sentral menyampaikan data fundamental yang kuat, tetapi pasar tetap gelisah, itu bukan karena data tersebut salah.
Hal itu karena terjadi narasi yang disampaikan tidak kredibel, tidak konsisten, atau tidak meyakinkan. Di sinilah peran juru bicara ekonomi menjadi sangat vital.
Investor, domestik maupun asing, membutuhkan arah. Mereka tidak hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi, tetapi juga mengapa, dan yang paling penting, apa yang akan dilakukan oleh otoritas ke depan.
Tanpa komunikasi yang strategis dan terbuka, pasar akan membentuk narasi sendiri yang kadang lebih mengancam daripada kenyataan.
Lemahnya Komunikasi
Dalam struktur kebijakan ekonomi saat ini, kita memiliki banyak otoritas yaitu, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Kemenko Perekonomian, OJK, hingga Presiden.
Akan tetapi, yang sering terjadi adalah komunikasi yang tumpang tindih, tidak sinkron, atau bahkan saling meniadakan.
Tidak ada satu suara tunggal yang bisa secara konsisten menjelaskan kepada publik dan pasar, apa strategi nasional, bagaimana kita merespons risiko eksternal, dan apa arah kebijakan ke depan.
Ketiadaan juru bicara tunggal membuat masyarakat dan pelaku usaha menerima potongan-potongan informasi yang terpisah, tanpa narasi besar yang memandu ekspektasi. Dalam situasi penuh tekanan seperti sekarang, ini berisiko menurunkan kepercayaan dan memperburuk sentimen pasar.
- Penulis, Prof Syafruddin Karimi, Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Sumatra Barat





