Jusuf Kalla: Kalau Hanya di Indonesia, Kita Tidak Tahu Dunia Sudah Berubah

oleh -400 Dilihat
KULIAH UMUM: Jusuf Kalla saat menyampaikan kuliah umum di FIB UGM.(Foto: dok UGM)

JOGJA, bisnisjogja.id – Mantan wakil presiden dua kali, Dr (HC) Muhammad Jusuf Kalla menanggapi tagar #kaburajadulu secara positif. Ia mengungkapkan kalau hanya berkutat di Indonesia, anak-anak muda tidak akan tahu bahwa dunia sudah berubah sangat cepat.

Ia menyampaikan hal itu pada Orasi Ilmiah dan Kuliah Umum bertajuk Diplomasi Budaya dan Perdamaian di Auditorium Soeganda, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Senin (24/2/2025).

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak malu meniru etos budaya kerja sejumlah negara yakni Tiongkok, Jepang dan India. Banyak anak muda negara tersebut yang belajar keras dan bahkan keluar dari negaranya untuk menimba ilmu.

”Di tengah globalisasi yang terjadi saat ini, anak muda harus memiliki pengalaman bertukar budaya dengan mengeksplorasi peluang kerja di negara lain, karena akan mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku,” tandas Jusuf Kalla.

Jauh Tertinggal

Ia mengungkapkan pula budaya turut mempengaruhi cara pandang individu. Menurutnya, orang yang tidak pernah melihat budaya lain akan merasa selalu besar tanpa tahu kalau dunia ini sangatlah luas.

Penilaiannya, bangsa Indonesia jauh tertinggal dengan Jepang dan Tiongkok karena kedua negara tersebut memiliki budaya kerja keras yang belum dimiliki Indonesia.

”Generasi muda Indonesia harus mengambil contoh dari pekerja India yang mau meningkatkan kapasitasnya dengan belajar budaya kerja Amerika Serikat yang kemudian diterapkan untuk membangun negerinya,” tegas Jusuf Kalla.

Kini, banyak warga India yang menguasai perusahaan teknologi di Amerika, seperti Twitter (X), Microsoft, hingga Meta. Menurutnya, dengan meniru nilai positif dari budaya negara lain, ia yakin generasi muda Indonesia dapat mempercepat pembangunan dan meningkatkan daya saingnya pada tingkat global.

Diplomasi Budaya

Jusuf Kalla yang pada Oktober 2024 menerima gelar ”Peace Mujahid Award” dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga menekankan pentingnya diplomasi budaya sebagai sarana efektif membangun perdamaian saat dirinya berperan meresolusi konflik di Afghanistan.

Pemahaman dan penghargaan pada budaya lain merupakan kunci menciptakan harmoni dan mencegah konflik antarbangsa. Ia berpesan, dalam konteks resolusi konflik, diplomasi budaya berperan penting menciptakan dialog yang konstruktif, mengurangi ketegangan, serta membangun kepercayaan.

Dengan menekankan pentingnya dialog, peran ulama, serta pendekatan inklusif, Jusuf Kalla terus berkontribusi dalam misi perdamaian global, sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia untuk turut serta menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.