JOGJA, bisnisjogja.id – Menjelang implementasi penuh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026, kesiapan pasokan susu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai telah memasuki fase kritis.
Merespons urgensi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema ”Rantai Pasok Inklusif Susu dan Protein MBG” di Hotel D’Senopati Malioboro, Yogyakarta (Jumat, 28/11/2025).
Forum menghadirkan pakar peternakan dan kesehatan masyarakat veteriner, Prof Epi Taufik yang memberikan pemaparan mendalam mengenai strategi optimalisasi pengadaan susu bagi peserta didik di DIY. Selaku moderator Tim Apriyanto (Pengurus Kadin DIY). Juga hadir Pengurus Kadin DIY lainnya yaitu Robby Kusumaharta dan Eddy Poerjanto.
Tantangan dan Kebutuhan
Dalam paparannya, Epi Taufik menegaskan bahwa tantangan utama pelaksanaan program ini bukan hanya terkait volume ketersediaan susu, tetapi juga jaminan kualitas dan keamanan pangan hingga produk tiba di tangan siswa.
Rantai pasok susu sangat spesifik karena membutuhkan penanganan rantai pasok yang ketat agar tidak rusak.
”Kita tidak bisa menggunakan pendekatan ”business as usual”. Perlu integrasi sistem logistik yang kuat dari hulu (peternak) hingga hilir (sekolah) dengan standar keamanan pangan yang tinggi,” tegas Epi.
Ia juga menyoroti pentingnya inklusi peternak lokal dalam ekosistem rantai pasok. Peternak DIY harus menjadi pemain utama melalui skema kemitraan yang adil dengan industri pengolahan.
Lima Rekomendasi
Dalam forum tersebut menghasilkan lima rekomendasi strategis.
Pertama, Penetapan Langkah Darurat. Mendesak Pemerintah DIY melakukan langkah darurat jangka pendek untuk menjamin ketersediaan pasokan, termasuk verifikasi faktual kapasitas suplai dari koperasi dan industri pengolahan di DIY.
Kedua, Kadin DIY sebagai Koordinator Sentral. Merekomendasikan Kadin DIY menjadi koordinator utama rantai pasok susu MBG, menjembatani pemerintah, industri, koperasi, dan peternak.
Ketiga, Penguatan Peternak dan Koperasi Lokal. Memprioritaskan pembinaan koperasi dan peningkatan kapasitas peternak lokal agar tercipta kemitraan yang berkeadilan dengan pelaku industri.
Keempat, Sistem Logistik dan Rantai Dingin Terintegrasi. Mendorong pengembangan sistem cold chain yang efisien, lengkap dengan jalur distribusi berbasis wilayah yang terstandarisasi.
Kelima, Insentif dan Skema Pembiayaan. Mengusulkan insentif fiskal maupun non-fiskal bagi pelaku usaha yang berkontribusi pada rantai pasok MBG, serta optimalisasi skema pembiayaan melalui kemitraan dan program CSR.
Kadin DIY berharap rekomendasi ini segera ditindaklanjuti agar Program MBG 2026 dapat berjalan sukses dengan pasokan susu yang aman, berkualitas, dan menyejahterakan peternak lokal Yogyakarta.






