Kalah dari Afrika, Kualitas Kakao Indonesia tidak Stabil

oleh -670 Dilihat
Ilustrasi kebun kakao.(Foto: diolah dari AI)

 

  • Rendahnya produktivitas kakao berakar pada kondisi tanaman yang menua dan minimnya program peremajaan.
  • Petani harus segera beralih menggunakan bibit unggul terstandar sebagai fondasi utama kebun.
  • Faktor pemicu ketidakstabilan mutu yakni kebiasaan petani yang masih memasarkan biji kakao tanpa proses fermentasi.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Industri kakao nasional menghadapi ancaman serius seiring terus menurunnya angka produksi dalam satu dekade terakhir. Data Direktorat Jenderal Perkebunan mengungkapkan rata-rata produktivitas kakao kini hanya menyentuh angka 500–700 kg per hektare per tahun.

Angka itu tertinggal jauh dari Ghana yang mampu menghasilkan 800–1.000 kg per hektare, sehingga memicu kekhawatiran daya saing bahan baku cokelat asal Indonesia pada pasar global.

”Rendahnya produktivitas berakar pada kondisi tanaman yang menua dan minimnya program peremajaan,” ujar Peneliti Fakultas Pertanian UGM, Nur Akbar Arofatullah PhD.

Serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dan penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) menjadi faktor utama yang merusak buah serta mematikan batang tanaman. Tanpa langkah intervensi yang masif, posisi Indonesia sebagai produsen utama dunia terancam tergerus negara Afrika.

Segera Gunakan Bibit Unggul

Akbar menegaskan petani harus segera beralih menggunakan bibit unggul terstandar sebagai fondasi utama kebun. Ia mengkritik penggunaan bibit asalan karena memiliki ketahanan lemah terhadap penyakit.

Menurutnya, bibit unggul tidak hanya menjamin volume hasil panen lebih tinggi. Namun juga memastikan keseragaman kualitas biji yang menjadi syarat mutlak industri pengolahan internasional.

”Penggunaan varietas unggul yang toleran terhadap hama mampu menekan biaya produksi petani secara signifikan. Dengan bibit yang tepat, petani dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia dan meminimalisir risiko gagal panen,” paparnya.

Ia menyebut efisiensi biaya sebagai kunci agar kakao Indonesia memiliki harga yang lebih kompetitif daripada  pasokan dari Pantai Gading atau Ghana.

Kualitas Afrika Lebih Stabil

Selain masalah di hulu, sektor pascapanen juga menjadi titik lemah yang membuat industri internasional berpaling dari Indonesia. Banyak industri pengolahan global lebih memilih bahan baku dari Afrika karena memiliki kualitas yang lebih stabil.

”Kurangnya konsistensi mutu dalam volume besar menjadi tantangan berat bagi eksportir lokal untuk memenuhi kontrak pengiriman skala industri,” jelas Akbar.

Faktor pemicu ketidakstabilan mutu yakni kebiasaan petani yang masih memasarkan biji kakao tanpa proses fermentasi. Praktik tersebut menghasilkan profil aroma dan tingkat keasaman yang tidak seragam, sehingga tidak memenuhi spesifikasi cokelat dunia.

Akibatnya, biji kakao Indonesia sering kali dihargai lebih rendah karena memerlukan proses pengolahan tambahan yang rumit.

No More Posts Available.

No more pages to load.