Kesiapan UMKM Manfaatkan Teknologi Metaverse Masih Rendah

oleh -519 Dilihat
Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sutrisno PhD.(Foto: istimewa)
  • Pelaku UMKM masih asing dengan teknologi metaverse.
  • Teknologi metaverse relatif mahal bagi pelaku UMKM.
  • Pelaku UMKM perlu dukungan pemerintah dan lembaga pendidikan.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) belum siap dengan perkembangan teknologi digital metaverse. Bahkan, kesiapan mereka untuk menyesuaikan dengan teknologi terbilang masih rendah.

Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sutrisno PhD mengungkapkan hal itu ketika berbicara tentang perkembangan teknologi metaverse.

”Kondisi lapangan yang sangat beragam membuat sebagian besar pelaku usaha belum benar-benar siap memanfaatkan teknologi tersebut,” ungkap Sutrisno.

Ia mengatakan potensi kreatif sebenarnya cukup besar di kalangan UMKM. Modal kreatif ada, terutama bagi brand yang sudah aktif di marketplace dan media sosial. Mereka yang paling siap naik kelas ke pengalaman 3D.

”Ruang untuk berkembang memang terbuka, namun masih terbatas pada pelaku yang akrab dengan teknologi digital,” jelasnya.

Hambatan struktural tetap kuat, terutama kesenjangan literasi digital dan keterbatasan infrastruktur. Banyak UMKM yang belum memiliki perangkat memadai, koneksi internet stabil, maupun dompet digital yang berfungsi optimal.

Elemen Penting

Surisno memaparkan, elemen penting seperti pengalaman imersif 3D, digital twins, hingga avatar-commerce diprediksi akan bertahan lama.

Menurutnya UMKM tidak harus langsung masuk penuh ke metaverse. Mereka bisa memulai dari hal-hal realistis seperti AR try-on, 3D product viewer, atau live shopping interaktif. Semua itu sudah bisa memberi nilai tambah tanpa harus terjebak di platform yang belum matang.

”Strategi bertahap lebih logis mengingat keterbatasan modal, SDM, dan kesiapan konsumen yang beragam. Dengan cara ini, UMKM dapat menguji efektivitas teknologi sederhana terlebih dahulu sebelum berinvestasi lebih besar,” ujarnya.

Teknologi metaverse membuka peluang pengalaman pelanggan yang lebih kaya, mulai dari demo produk 3D, peluncuran virtual, hingga pop-up store digital. Pelaku UMKM juga dapat menarget komunitas khusus, seperti gaming atau streetwear, melalui peluncuran produk berbasis virtual.

”Kendalanya, biaya produksi konten 3D masih relatif mahal, sementara potensi keuntungannya belum sepenuhnya pasti. Selain itu, keterbatasan interoperabilitas antarplatform dan kebutuhan perangkat berteknologi tinggi juga menjadi tantangan tambahan,” tandas Sutrisno.

Pemerintah memiliki peran penting guna mengatasi tantangan, termasuk lembaga pendidikan. Pemerintah dapat menghadirkan kebijakan serta insentif, seperti voucher digital, pendanaan mikro untuk produksi konten 3D, hingga regulasi sandbox yang relevan dengan perdagangan virtual.

Lembaga pendidikan dapat mengambil peran strategis dengan mengembangkan kurikulum singkat atau bootcamp tentang pembuatan katalog 3D, AR try-on, serta event virtual. Sertifikasi praktis bagi desainer 3D dan technical artist lokal juga penting untuk memperkuat ekosistem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.