JOGJA, bisnisjogja.id – Indonesia memiliki potensi panas bumi mencapai sekitar 40 persen dari total cadangan panas bumi dunia. Salah satu potensi tersebut ada di Kamojang yang menjadi tonggak penting sejarah panas bumi.
Berbagai catatan menyebutkan eksplorasi Kamojang berlangsung sejak 1926. Tak hanya soal energi, tempat itu juga menjadi lahirnya inovasi kopi pertama di dunia yang prosesnya melalui uap panas bumi.
Adalah Mang Deden, sosok pelopor kopi panas bumi. Ia bersama para pelaku usaha lokal memanfaatkan kekayaan alam kampung halaman dengan dukungan dari PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO), yang telah beroperasi sejak 1983 di Kamojang.
”Sejak 2015 saya sudah menjalankan usaha kopi lengkap dan menjadi tempat nongkrong berbagai komunitas,” ungkap pemilik nama asli Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah.
Selain pengusaha kopi, Deden juga aktif berperan sebagai Ketua Karang Taruna di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Partisipasinya dalam komunitas tersebut membuat kedai kopi milik Deden kerap menjadi tempat berkumpul warga untuk bersantai dan berbagi cerita, termasuk para pekerja dari PGE Area Kamojang.
Hubungan Baik
Sejak saat itu, Deden mulai menjalin hubungan baik dengan para karyawan PGE Area Kamojang. Kedekatannya terjalin melalui obrolan santai seputar kopi, mulai dari proses produksi hingga peluang pengembangan kopi lokal.
”Satu hari, PGE menyampaikan keinginan untuk memulai program pembinaan kopi dan kami merespons,” ujar Deden.
Ia melihat potensi panas bumi sebagai peluang untuk menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi para produsen kopi konvensional.

Bersama PGE, ia melakukan riset intensif untuk menemukan teknik fermentasi yang paling sesuai dengan karakteristik panas bumi yang digunakan dalam proses pengolahan kopi.
”Saya melakukan riset fermentasi selama hampir setahun. Dari lebih dari 20 jenis proses yang dicoba, akhirnya kami menemukan tiga metode yang paling sesuai dengan karakter pengeringan,” jelas Deden.
Kopi Arabika
Setelah riset berkali-kali, Deden mulai mulai memproduksi dengan mengolah biji Arabika yang berasal dari dataran tinggi Kamojang. Kopi tersebut hidup pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Tak ingin sendirian, ia mengajak para pelaku usaha kopi Kamojang untuk membangun ekosistem bisnis yang lebih efisien melalui pemanfaatan teknologi ”Geothermal Dry House”.
Teknologi tersebut tidak lagi mengandalkan sinar matahari yang kini semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim global. Sebagai gantinya, ”Geothermal Dry House” memanfaatkan aliran steam trap dari uap panas bumi PGE Kamojang yang dialirkan melalui pipa.
Hal itu memungkinkan pengaturan suhu ruangan secara stabil dan terkontrol untuk proses pengeringan kopi yang lebih efisien, higienis, dan berkualitas.
Saat ini Deden mengelola Geothermal Coffee Process (GCP) sebagai Managing Director. Ia berkolaborasi dengan PGE untuk merangkul para petani kopi di kawasan Kamojang.
Usahanya bergerak di bidang pengolahan biji kopi pasca panen, mulai dari proses, pengeringan, hingga pengupasan kulit ari, dengan hasil akhir berupa green bean.





