Krisis Timur Tengah, Transaksi Kontrak Berjangka Minyak Mentah Melonjak

oleh -13 Dilihat
Ilustrasi industri minyak bumi.(Foto: Freepik)

JAKARTA, bisnisjogja.id – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah memicu guncangan hebat pada pasar energi global. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas perdagangan di Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) yang mencatat lonjakan tajam transaksi kontrak berjangka minyak mentah.

Sepanjang Maret 2026, transaksi kontrak berjangka minyak mentah berkode COFU10 di ICDX menyentuh angka 648 lot. Angka itu menunjukkan kenaikan eksponensial dibandingkan Februari 2026 yang hanya sebesar 12 lot, serta Januari 2026 yang tercatat sebanyak 4 lot.

Kontrak COFU10 merupakan instrumen investasi yang merepresentasikan 10 barel per lot dengan mengacu pada jenis minyak West Texas Intermediate (WTI). Minyak mentah ringan (light) dan manis (sweet) merupakan salah satu patokan (benchmark) utama harga minyak dunia yang sangat sensitif terhadap isu global.

Kesadaran Pelaku Usaha

Direktur ICDX, Nursalam, menyatakan lonjakan mencerminkan tingginya kesadaran pelaku usaha untuk melakukan strategi hedging atau lindung nilai. Di tengah ketidakpastian pasar energi, instrumen tersebut menjadi krusial untuk memitigasi risiko volatilitas harga yang tidak menentu di pasar fisik.

”Situasi di Timur Tengah memberikan guncangan besar. Dalam kondisi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi akibat perubahan harga yang drastis pada pasar fisik atau spot,” ujar Nursalam dalam keterangan resminya.

Selain minyak mentah, ia menambahkan bahwa ICDX terus memfasilitasi transaksi multilateral lainnya seperti mata uang dan emas. Pihak bursa berkomitmen untuk terus mengembangkan kontrak berjangka yang relevan dengan kebutuhan para pelaku usaha dalam mengelola risiko investasi mereka.

Dari sisi fundamental, analis ICDX Girta Yoga melihat harga minyak mentah masih memiliki tren bullish atau menguat dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh risiko geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga menjadi katalis penggerak utama pasar saat ini.

Ancam Pasokan Global

Ketegangan di Timur Tengah, berdampak langsung pada ancaman gangguan pasokan global. Aksi saling blokade di jalur pengiriman vital seperti Selat Hormuz menjadi perhatian utama, mengingat jalur tersebut berkontribusi terhadap sekitar 20% pasokan energi dunia.

Girta memprediksi harga minyak dunia dalam jangka pendek akan bergerak di level resistance pada kisaran USD 95 hingga 100 per barel. Namun, pergerakan harga juga akan bergantung pada kebijakan output OPEC+ serta perkembangan negosiasi gencatan senjata di kawasan tersebut.

”Jika muncul katalis negatif atau meredanya tensi, harga berpotensi turun menuju level support di kisaran USD 80 hingga 75 per barel,” imbuh Girta. Pasar kini terus memantau data pertumbuhan permintaan dari negara importir utama seperti Tiongkok dan India di tengah ketidakpastian.

No More Posts Available.

No more pages to load.