- Kartini tidak berjuang agar dikenang dengan seremonial.
- Angka partisipasi sekolah perempuan saat ini telah mengalami peningkatan.
- Buka ruang perempuan mengambil peran strategis di berbagai sektor kehidupan.
JEPARA, bisnisjogja.id – Hari Kartini merupakan momentum reflektif untuk membedah dan menghidupkan kembali pemikiran Raden Ajeng Kartini dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, pemajuan hak asasi manusia (HAM), dan penguatan kesetaraan gender.
Wakil Menteri HAM, Mugiyanto mengungkapkan itu pada saat menghadiri Peringatan Hari Kartini ke-147 di Pendopo Kartini, yang berada di area Kantor Pemerintah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Selasa (21/4/2026).
Ia menegaskan Kartini tidak berjuang agar dikenang dengan seremonial. Kartini menulis, melawan, dan terluka agar perempuan Indonesia bisa berdiri sama tegak, berpikir sama tajam, dan bermimpi sama tinggi dengan siapa pun.
Pria kelahiran Kabupaten Jepara tersebut menjelaskan, Kartini pada masanya turut memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya hak atas pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan hak dasar setiap manusia.
”Pendidikan bukan agar perempuan menjadi istri yang bisa diajak berdiskusi oleh suami, tetapi agar perempuan menjadi manusia yang utuh, serta menjadi manusia yang bisa memilih, menolak, dan memimpin,” tegas Mugiyanto.
Pembebasan Perempuan dari Keterbatasan
Mugiyanto juga menyinggung angka partisipasi sekolah perempuan saat ini telah mengalami peningkatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025, angka putus sekolah perempuan di jenjang SMA hanya ada di kisaran 2,14 persen.
Persentase itu diketahui lebih tinggi di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Hal ini tidak terlepas dari faktor kemiskinan, perkawinan anak, serta anggapan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi.
Ia menekankan perjuangan Kartini fokus pada pembebasan perempuan dari keterbatasan akses pendidikan dan ruang berekspresi, sehingga nilai-nilai perjuangannya tetap relevan dalam menjawab tantangan perempuan masa kini.
”Pendidikan perempuan merupakan hak fundamental yang harus dijamin tanpa diskriminasi, termasuk melalui pencegahan putus sekolah dan perkawinan anak,” tegasnya.
Buka Ruang untuk Perempuan
Mugiyanto menambahkan, tema peringatan Hari Kartini ”Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi” harus dimaknai sebagai ajakan untuk membuka ruang bagi perempuan dalam bermimpi, berprestasi, dan mengambil peran strategis di berbagai sektor kehidupan.
Usai rangkaian acara, Mugiyanto berkesempatan mengunjungi Museum Kartini yang berada di kawasan yang sama. Ia turut mengikuti kegiatan mengukir kayu dan membatik bersama para pelajar dari berbagai sekolah serta komunitas perempuan di Jepara.
Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Bupati Jepara M. Ibnu Hajar, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Tengah, serta perwakilan masyarakat Kabupaten Jepara tampak hadir dalam acara.







