Nilai Tukar Petani Agustus 2024

oleh -1046 Dilihat
Ilustrasi BPS (Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator yang berguna untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di suatu wilayah/daerah.

Ini digunakan untuk  mengukur kemampuan produk (komoditas) yang dihasilkan petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani.

Terdapat tiga kategori umum NTP. Pertama, jika NTP > 100, petani mendapatkan keuntungan perdagangan, yaitu ketika harga yang mereka terima naik lebih cepat daripada harga yang harus mereka bayar, atau ketika penurunan harga yang diterima lebih lambat dibanding harga yang dibayar.

Kedua, NTP = 100, kondisi perdagangan petani stabil. Perubahan harga yang diterima sebanding dengan perubahan harga yang dibayar dibandingkan dengan tahun dasar.

Ketiga, NTP < 100, petani mengalami kerugian perdagangan, saat harga yang dibayar meningkat lebih cepat dibanding harga yang diterima, atau saat harga yang dibayar menurun lebih lambat dari harga yang diterima.

Berikut tabel perbandingan NTP di Pulau Jawa per Agustus 2024. Nilai Tukar Petani seluruh provinsi di Jawa lebih rendah dari NTP Indonesia.

Dibandingkan Juli 2024, NTP Indonesia meningkat. Pada seluruh NTP provinsi Jawa juga meningkat, kecuali Jawa Timur.

Nilai Tukar Petani DIY lebih rendah dari NTP provini lainnya di Jawa. NTP DIY bulan Agustus 2024 sebesar 104,30 lebih rendah dari NTP Indonesia maupun NTP lima provinsi di Jawa (lihat tabel).

 

Tabel NTP 6 Provinsi di Pulau Jawa

 

No

 

Provinsi

NTP

(Juli 2024)

NTP

(Agustus 2024)

1 DKI Jakarta 106,18 106,29
2 Jawa Barat 110,92 111,99
3 Jawa Tengah 113,45 113,80
4 DI Yogyakarta 103,86 104,30
5 Jawa Timur 112,43 111,98
6 Banten 106,82 108,88
7 Indonesia 119,61 119,85

Sumber: BPS (10 September 2024)

 

Pemda DIY dan Pemkab di wilayah DIY harus bersinergi untuk meningkatkan NTP. Dari sisi petani, harga gabah  harus diupayakan meningkat dengan tetap menjaga stabilitas harga sarana produksi (saprodi). Di sisi lain, pasokan dan distribusi produksi barang yang dikonsumsi harus lancar. Jika ketersediaan produk yang dikonsumsi petani terjamin disertai dengan stabilitas harga dapat mendorong kenaikan NPT.

 

  • Penulis, Dr Y Sri Susilo SE Msi, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta & Pengurus Kadin DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.