JOGJA, bisnisjogja.id – Pameran Babad Diponegoro #2 mengambil inspirasi dari salah satu naskah penting dari Kraton Yogyakarta berjudul ”Babad Ngayogyakarta HB IV dumugi HB V”.
Kitab yang bernilai sejarah tinggi ini ditulis oleh seorang pujangga atas perintah dari Sultan Hamengku Buwono VI, kemudian disalin kembali pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII.
Sekalipun naskah ini diberi judul Babad Ngayogyakarta HB IV dan V, namun sebagian besar dari pupuh pupuhnya menggambarkan tentang Perang Jawa dan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro yang dijuluki sebagai ”Satrio Pinandhito”.
”Julukan ini menunjukkan bahwa historiografi Kraton tentang Diponegoro tidak menempatkan tokoh ini sebagai sosok antagonis vis a vis dengan Kraton, sebaliknya tindakan dan budi-pekertinya menjadi model dan panutan,” tutur tim kurator, Mikke Susanto.
Bentuk Ekspresi
Nukilan dari pupuh-pupuh yang menggambarkan tentang Pangeran Diponegoro terbagi ke dalam 39 narasi yang diberikan kepada setiap pelukis untuk divisualisasikan sesuai interpretasi dan gaya pelukis-pelukisnya.
”Hasilnya, Anda dapat melihat lukisan-lukisan yang disajikan bukanlah sepenuhnya ”dokumentasi” atau ilustrasi peristiwa atau lukisan sejarah an sich,” imbuh Sri Margana.
Lukisan-lukisan para pelukis berfungsi ganda, yakni sebagai bentuk ekspresi simbolik individual, sekaligus memiliki dimensi atau ilustrasi realitas sejarah. Lukisan-lukisan tersebut berfungsi sebagai ”medium antara” yang tidak dibatasi oleh kepentingan bidang studi sejarah, tetapi juga kepentingan seni itu sendiri.
Pameran yang didasari dari dunia literasi menuju satu tujuan, yakni mengupayakan nilai-nilai sejarah dan kearifan Diponegoro agar terus tertanam dan semakin banyak yang memahami perannya.
Setidaknya pameran memberi ruang temu dan telaah lebih lanjut terkait masyarakat masa lalu yang dihidupkan oleh masyarakat hari ini. Menyala Diponegorokuh!





