JOGJA, bisnisjogja.id – Ekonomi syariah Indonesia memperlihatkan perkembangan. Data Global Islamic Economy Indicator (GIEI) mencatat Indonesia menempati peringkat ketiga di tahun 2023, naik dari peringkat 11 pada tahun 2018.
”Kendati demikian, masih terdapat tantangan besar pengembangan ekonomi syariah yakni rendahnya tingkat literasi dan inklusi ekonomi syariah,” ungkap Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sutan Emir Hidayat PhD.
Ia menyampaikan itu pada Sabtu (28/9/2024), ketika berlangsung 9th Gadjah Mada International Conference on Islamic Economics and Business (GamaICIEB) di FEB UGM.
Berdasarkan Data
Sutan menjelaskan data Otorita Jasa Keuangan 2023 menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah baru mencapai 39,11 persen dan tingkat inklusi keuangan syariah sebesar 12,88 persen.
”Salah satu tantangannya, akses terhadap layanan keuangan syariah di kawasan pedesaan dan Indonesia bagian tengah dan timur sangat terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan pengembangan ekonomi syariah,” paparnya.
Minimnya akses layanan keuangan syariah tersebut menurut Sutan menghambat pemenuhan kebutuhan keuangan Islam. Hambatan terutama untuk transaksi keuangan yang terkait kegiatan keagamaan seperti haji, umrah, kurban, zakat, infaq, sadakah, serta wakaf.
”Tantangan lain, kurangnya dukungan pemimpin komunitas dan tokoh agama untuk merekomendasikan keuangan syariah kepada masyarakat,” tandasnya.





