- Pariwisata menyerap tenaga kerja formal dan informal di berbagai subsektor.
- Pariwisata ramah Muslim telah berkembang pesat menjadi salah satu segmen strategis.
- Perlu perluasan layanan penerbangan internasional, penerbangan langsung dari negara-negara Timur Tengah.
JOGJA, bisnisjogja.id – Aktivitas pariwisata menjadi motor penggerak ekonomi lokal terutama di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Gunungkidul. Sektor pariwisata menciptakan efek ganda yang luas, salah satunya meningkatkan permintaan terhadap produk lokal seperti kuliner, kerajinan, fesyen, dan UMKM.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo mengungkapkan itu pada diskusi terbatas dengan topik ”Mendorong Pengembangan Wisata Ramah Muslim DIY” di Hotel Novotel Suite, (Selasa, 11/11/25).
Diskusi merupakan kerja sama KPwBI DIY, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY.
”Dengan inovasi potensi pariwisata DIY dapat terus dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tandas Sudibyo.
Tenaga Kerja
Ia menjelaskan, pariwisata menyerap tenaga kerja formal dan informal di berbagai subsektor. Jumlah pekerja sektor pariwisata DIY sebanyak 292.601 orang atau 12,94 persen angkatan kerja DIY. Dari aktivitas pariwisata juga merupakan sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pariwisata memberikan kontribusi langsung pada PAD melalui beberapa jenis pajak daerah dan retribusi jasa usaha yang bersumber dari aktivitas wisatawan, dengan pangsa sebesar 28 persen (Rp 1,6 triliun) dari total PAD di DIY (Rp 5,7 triliun) tahun 2024.
”Menjelang akhir tahun 2025, pergerakan wisatawan ke DIY bakal meningkat. Ini seiring dengan pelonggaran kebijakan efisiensi pemerintah yang mendorong peningkatan aktivitas MICE serta rencana stimulus diskon tarif angkutan pada momentum Natal dan tahun baru,” papar Sudibyo.
Wisata Halal
Ketua MES DIY, Edy Suandi Hamid mengungkapkan di berbagai negara, pariwisata halal bagi wisatawan Muslim telah berkembang pesat dan menjadi salah satu segmen industri pariwisata yang strategis.
Di kota-kota besar seperti New York, akses terhadap fasilitas ibadah, termasuk masjid yang mudah dijangkau, telah memudahkan kebutuhan spiritual para wisatawan.
Selain itu, ketersediaan makanan halal yang beragam dan tersertifikasi secara luas semakin mendukung kenyamanan dan pengalaman wisata halal yang terpadu, sehingga menarik minat wisatawan Muslim dari berbagai belahan dunia.
”Mengingat DIY sebagai kota berbasis pariwisata, penting apabila saat ini pariwisata mulai merambah ke pariwisata halal atau pariwisata ramah Muslim,” ujar jelas Edy yang juga Rektor UWM Yogyakarta.
Penerbangan Langsung
Menurut Wakil Ketua Bidang Akademik ISEI Cabang Yogyakarta, Gumilang Aryo Sahadewo peningkatan pariwisata halal di Indonesia, utamanya di DIY dapat didorong dengan perluasan layanan penerbangan internasional, termasuk tersedianya penerbangan langsung dari negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.
Langkah tersebut bertujuan mendorong peningkatan lama tinggal wisatawan Muslim, menarik lebih banyak wisatawan asing, serta meningkatkan pengeluaran mereka selama kunjungan.
Dengan demikian, konektivitas penerbangan yang lebih baik menjadi salah satu faktor strategis dalam mengoptimalkan potensi ekonomi pariwisata halal dan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi yang ramah bagi wisatawan Muslim.
Hadir dalam diskusi terbatas, perwakilan dari KPwBI DIY serta pengurus ISEI Cabang Yogyakarta dan MES DIY. Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta yang hadir antara lain, Rudy Badrudin, Dian Ariani, dan Dorothea Wahyu Ariani.
Peserta dari KPwBI DIY juga hadir Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto). Pengurus MES DIY hadir Budiharta Setyawan, Coach Wulan, Alghifari dan Taufik Ridwan. Moderator diskusi, Dosen FBE UAJY, Y Sri Susilo.





