- Pelaku UMKM tidak cukup diberi ruang, mereka harus didampingi, diperkuat, dan dimasukkan sebagai bagian, dari arsitektur strategis pembangunan daerah.
- Kadin DIY harus bertransformasi menjadi jembatan antar dunia: antara kapital dan komunitas, antara manufaktur dan kerajinan, antara laboratorium riset dan bengkel rakyat.
BAGI masyarakat Jawa, falsafah tersebut adalah janji dan tekad. Bahwa pasar, sebagai simbol kehidupan ekonomi rakyat, tak boleh kehilangan gaungnya, bahkan dalam pusaran arus global dan tekanan zaman. Pasar adalah ruang kolektif, di mana harapan dan keringat bertemu. Ketika pasar masih hidup, maka daya hidup rakyat masih ada.
Dalam konteks inilah, tepat kiranya, Musda IX Kadin DIY 2025 mengambil tema ”Memperkokoh Ketangguhan Ekonomi DIY”. Sebuah tema yang mengandung kesadaran, bahwa pertumbuhan saja tidak cukup jika tidak berakar pada ketangguhan.
Kita tidak hanya ingin tumbuh tinggi, tetapi kuat menahan badai. Kita ingin, DIY bukan sekadar relevan secara angka, tetapi berarti dalam kehidupan warganya.
Fondasi Ekonomi
Data berbicara, lebih dari 98.000 unit IKM di DIY, menopang fondasi perekonomian. Sektor pangan, mengisi hampir setengah dari keseluruhan, disusul logam, dan kerajinan. Lajur angka ini, adalah struktur identitas ekonomi kita.
Sebuah struktur ekonomi yang tak sekadar kuat, tapi cerdas menghadapi tekanan. Seperti bambu, yang lentur tanpa kehilangan arah, tangguh tanpa kehilangan nilai.
Namun struktur ini juga menghadapi tantangan nyata. Globalisasi, digitalisasi, krisis pasca-pandemi, hingga perubahan iklim, menuntut kesiapan baru. Pelaku UMKM tidak cukup diberi ruang, mereka harus didampingi, diperkuat, dan dimasukkan sebagai bagian, dari arsitektur strategis pembangunan daerah.
Di sinilah Kadin memainkan peran yang semakin relevan. Meski lahir sebagai rumah besar bagi dunia industri, Kadin masa kini bukan sekadar forum korporasi mapan. Kadin DIY bukan hanya wadah kekuatan modal, melainkan arsitek konektivitas ekonomi daerah, penghubung antara inovasi korporasi, dengan ketangguhan IKM dan koperasi, yang menjadi denyut ekonomi rakyat.
Babak Baru
Musda, menandai babak baru transformasi Kadin DIY. Bahwa peran kamar dagang dan industri, tidak lagi cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi dari kemampuan menyusun ulang ekosistem yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan. Kadin harus menjadi ”enabler” bagi modernisasi industri, sekaligus guardian bagi keberlanjutan ekonomi rakyat.
Dalam lanskap baru ini, industri besar tak lagi berjalan sendiri. Mereka menjadi inkubator inovasi, yang membuka peluang bagi IKM untuk naik kelas. Sementara IKM, dapat tampil sebagai ”co-creator” dalam ekonomi baru, yang berbasis kreativitas, teknologi, dan kolaborasi digital.
Untuk mencapai tataran itu, Kadin DIY harus bertransformasi menjadi jembatan antar dunia: antara kapital dan komunitas, antara manufaktur dan kerajinan, antara laboratorium riset dan bengkel rakyat. Di situlah, wajah baru dunia usaha Yogyakarta akan lahir, lebih terbuka, terhubung, dan berkeadaban digital.
Jalan Transisi
Perjalanan korporasi global, mengajarkan banyak hal. Toyota, misalnya, tidak mengikuti arus euforia kendaraan listrik secara penuh.
Mereka memilih strategi hybrid-first, memperkuat riset dan kesiapan bertahap. Dan terbukti, Toyota tetap memimpin pangsa pasar global hingga 2024. Bukan karena lompatan drastis, tapi karena fondasi yang kokoh, dan ekosistem yang disiapkan.
Inilah pendekatan yang bisa ditiru oleh industri di DIY. Kita, tidak memaksakan adopsi teknologi tinggi, tanpa kesiapan. Yang kita lakukan, adalah menyiapkan jalan transisi yang logis dan kontekstual.
Satu yang menjadi perhatian saya, transformasi digital, tidak boleh menciptakan jarak antara yang paham dan yang tertinggal. Kecerdasan buatan (AI), ”machine learning”, dan big data, harus diterjemahkan menjadi teknologi tepat guna, yang bisa digunakan oleh banyak orang.
Serat Wedhatama mengingatkan, ”Ngèlmu iku kalakone kanthi laku”. Pengetahuan, termasuk teknologi, harus diterapkan. Maka pendampingan teknologi bagi IKM, tak cukup satu pelatihan. Ia harus jadi sistem mentoring berkelanjutan.
Begitu pula, perlindungan terhadap budaya dan hak cipta. IKM kerajinan, tidak boleh kehilangan identitasnya, karena digitalisasi yang seragam. Justru keberagaman lokal, lebih berpotensi menjadi kekuatan pasar global.
Ruang Refleksi
Musda adalah titik balik, sekaligus ruang refleksi, dan menjadi ruang redesain peran Kadin ke depan. Saya percaya, di dalam jiwa Kadin DIY, terdapat energi besar untuk menjadi pelopor kolaborasi. Sebuah Kadin yang merangkul, bukan hanya merepresentasi. Yang menyambung dunia usaha besar, dengan denyut UMKM. Yang tidak mengukur kekuatan dari omset saja, tapi dari ketahanan struktur ekonominya.
Itulah arah dan harapan yang saya titipkan, sebagai bentuk dukungan dan apresiasi atas terselenggaranya Rapimda ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan berkah dan rahmatNya, agar Kadin DIY mampu ”napak laku”, melangkah nyata, menyerap api semangat kolaborasi, dan menyalakannya menjadi energi perubahan.
- Gubernur DIY, Hamengku Buwono X, disampaikan pada pembukaan Musda IX Kadin DIY.





