JOGJA, bisnisjogja.id – Pertumbuhan perbankan syariah Indonesia tertinggal dari Malaysia. Padahal dari persentase penduduk, Indonesia 85 persen muslim dan Malaysia hanya 55 persen yang muslim.
Dosen International Program for Islamic Economics and Finance, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Dimas Bagus Wiranatakusuma menyampaikan fakta tersebut.
Ia mengungkapkan pada sesi kuliah bertema ”Risk Management for Banking” dalam rangkaian Summer School IPIEF 2025 di kampus UMY.
”Data menyebutkan per Februari 2025, pangsa pasar aset perbankan syariah Indonesia baru mencapai 7,5 persen, jauh di bawah Malaysia yang telah melampaui 20 persen,” papar Dimas.
Menurutnya, lambatnya pertumbuhan bukan sepenuhnya karena minat rendah melainkan lebih pada ekosistem kelembagaan dan dukungan regulasi yang belum optimal.
Salah satu kendala utama adalah tidak adanya kewajiban bagi lembaga besar milik negara (GLC) untuk menempatkan dana mereka di bank syariah.
Positif
Kendati demikian, ia menilai sejumlah indikator kinerja perbankan syariah nasional menunjukkan tren positif, terutama dalam hal rasio intermediasi dan tingkat profitabilitas.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) bank syariah saat ini mendekati angka ideal, sementara ketahanan terhadap risiko cukup baik.
Bank syariah di Indonesia menurutnya tergolong efisien dalam proses intermediasi. Dana masyarakat yang dihimpun sebagian besar langsung disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan produktif.
”Perbankan syariah tetap berakar pada nilai-nilai inklusif dan pembangunan sosial. Selain itu, inovasi produk menjadi hal yang tak bisa diabaikan agar layanan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern,” saran Dimas.
Produk seperti sukuk dan wakaf produktif, menurutnya, merupakan contoh nyata instrumen keuangan syariah dapat mendukung pembangunan berkelanjutan.
Edukasi
Dimas juga menyoroti pentingnya literasi dan edukasi keuangan syariah, terutama bagi generasi muda dan pelaku usaha kecil. Hal ini menjadi langkah strategis dalam memperluas penetrasi pasar dan memperkuat kepercayaan publik.
”Jika ingin keluar dari stagnasi di bawah 10 persen, harus membangun persepsi yang tepat, memperbaiki regulasi, memperluas digitalisasi, dan memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan,” tandasnya.
Transformasi digital, kolaborasi internasional, dan strategi pemasaran yang adaptif merupakan kunci untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam industri keuangan syariah global.
”Hanya dengan cara itu, Indonesia bisa menjadikan perbankan syariah sebagai arus utama dalam sistem keuangan nasional,” imbuhnya.





