JOGJA, bisnisjogja.id – Sikap diam Tiongkok dan Rusia dalam konflik bersenjata antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran bukan sebagai bentuk kenetralan. Langkah tersebut dipandang sebagai strategi geopolitik terukur untuk melemahkan dominasi Barat.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ahmad Sahide menilai kedua negara tersebut sengaja membiarkan konflik berlangsung tanpa keterlibatan langsung di medan perang demi kepentingan strategis jangka panjang.
Menurut Sahide, semakin lama ketegangan di Timur Tengah berlarut-larut, maka tekanan terhadap stabilitas ekonomi dan kekuatan militer Amerika Serikat akan semakin besar dan menguras sumber daya mereka.
Momentum tersebut menjadi peluang emas bagi Beijing untuk memperkuat pengaruhnya di panggung global saat perhatian dan energi AS terpecah dalam mengurusi konflik tersebut.
”Jika perang ini berlangsung lama, ekonomi Amerika Serikat akan melemah. Itu menjadi kesempatan bagi Tiongkok untuk mengambil alih supremasi global dari tangan AS,” ujar Sahide.
Taring AS Memudar
Analisisnya sejalan dengan tren jangka panjang yang memproyeksikan Tiongkok akan melampaui posisi AS sebagai kekuatan ekonomi dan politik utama dunia dalam rentang 10 hingga 15 tahun ke depan.
Konflik Iran dianggap sebagai akselerator proyeksi tersebut. Sebagai bukti, Sahide menyoroti minimnya respons militer AS dan NATO saat Iran mengancam menutup Selat Hormuz sebagai indikasi memudarnya taring Amerika.
Di sisi lain, Tiongkok dan Rusia tetap berhati-hati untuk tidak terlibat secara terbuka guna menghindari eskalasi nuklir. Mereka menghindari konfrontasi langsung yang dapat memicu perang global yang merusak.
Strategi tidak langsung ini dianggap lebih aman bagi Tiongkok untuk tetap mengonsolidasikan kekuatan nasionalnya sembari membiarkan pengaruh AS tergerus oleh konflik yang tak kunjung usai.
Kondisi AS kian terjepit oleh tekanan domestik berupa gelombang demonstrasi publik yang menolak keterlibatan militer. Situasi internal yang tidak stabil semakin memuluskan jalan bagi Tiongkok untuk memenangkan persaingan hegemonik tanpa harus mengangkat senjata.






