JOGJA, bisnisjogja.id – Seni merajut merupakan aktivitas Supartini sehari-hari sejak kecelakaan menimpanya beberapa tahun lalu. Ia mengisi waktu luang dengan merajut, hasilnya lumayan untuk makan sehari-hari. Itu kalau pas ramai orderan. Lantas bagaimana bila saat sepi?
”Saya biasanya ngojek. Bukan sembarang ojek karena saya mengoperasikan ojek untuk difabel,” tutur single parent dua anak tersebut.
Supartini merupakan satu di antara jutaan penerima bantuan kredit tanpa agunan dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Ia semula tak mengenal yang namanya PIP, sampai kemudian ada tetangga yang mengenalkan hingga bisa memperoleh bantuan kredit.
”Awal kenal dengan PIP melalui tetangga yang terkejut melihat tumpukan hasil rajutan di rumah. Berawal dari nol, sama sekali nol, saya kemudian bisa memperoleh bantuan dari PIP,” ujar Supartini di sela-sela diskusi dengan PIP di Sleman.
Dampak Positif
Penerima bantuan lain, Muji Rahayu, pemilik Teo Craft Yogyakarta. Bantuan kredit skema Ultra Mikro (UMi) membuat dirinya dapat mengambangan usaha, meningkatkan kapasitas produksi serta memasarkan ke berbagai wilayah.
Ia tak hanya menerima bantuan namun juga bisa berkonsultasi dan mendapat pendampingan. Inilah yang membuat dirinya semakin percaya diri mengembangkan usaha.
”Pembiayaan kredit UMi sangat membantu kami. Semula peralawan saya sangat terbatas, kini bisa menambah produksi dengan peralatan baru,” imbuh Juli Hariyati, pemilik usaha prol tape.
Makin Luas
Tak jauh bedanya dengan Ruswati, pemilik usaha Oping Craft. Bantuan pembiayaan skema UMi membantu usaha makin berkembang dan pasar semakin luas.
Direktur Keuangan, Umum dan Sistem Informasi PIP, Mas Soeharto mengungkapkan pihaknya akan terus memperluas jangkauan dan skema kredit tanpa agunan berbunga rendah. Bantuan kredit akan menjangkau berbagai komunitas termasuk para seniman.
”Kami akan terus mempeluas jangkauan dan plafon pembiayaan. Tahun depan akan ada komunitas seperti tukang ojek, seniman, yang bisa mendapatkan akses pembiayaan,” tegasnya.





