Tingkatkan Kewaspadaan, Kadin dan ISEI Bentuk Komite Ketangguhan Ekonomi

oleh -550 Dilihat
EKONOMI GLOBAL: Tim Ahli Jogjakarta Economic Resilience Committee – JERC, Amirullah Setya Hardi PhD menyampaikan dampak kondisi perekonomian global terhadap DIY.(Foto: Priyo Wicaksono)

JOGJA, bisnisjogja.id – Di tengah ketidakastian global yang terus meningkat, DIY masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen (Year on Year) selama kuartal pertama 2025. Ini lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 4,87 persen.

Wakil Ketua ISEI Cabang Yogyakarta, Amirullah Setya Hardi PhD mengungkapkan itu pada peluncuran Komite Ketangguhan Ekonomi Jogjakarta (Jogjakarta Economic Resilience Committee – JERC) di Poenakawan Kafe & Resto. Komite ini merupakan pertama di Indonesia yang menjadi benteng dampak ketidakpastian global.

”Angka pertumbuhan DIY memang lebih tinggi dari nasional tetapi kinerja neraca perdagangan memperlihatkan penurunan,” ujar Amirullah, Rabu (14/5/2025).

Pada Maret 2025 BPS DIY mencatat neraca perdagangan sebesar US$ 31,73 juta yang lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi neraca perdagangan pada Februari 2025 sebesar US$ 32,6 juta atau mengalami penurunan 2,6 persen (Month to Month).

Kinerja perdagangan DIY semakin terlihat keterpurukannya bila dibandingkan dengan Maret 2024 yang tercatat sebesar US$ 34,04 juta. Ini berarti telah terjadi penurunan sebesar 6,78 persen (Year on Year).

Tulang Punggung

”Hingga saat ini, perdagangan internasional masih menjadi tulang punggung perekonomian DIY untuk meningkatkan nilai tambah dari produk strategis di sektor industri pengolahan,” papar Amirullah yang juga Tim Ahli Komite Ketangguhan Ekonomi DIY.

Ia menjelaskan, sektor indstri pengolahan hingga kuartal pertama 2025 masih menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian DIY, Disusul sektor pertanian dan sektor akomodasi dan makanan minuman.

Di antara produk yang dihasilkan sektor industri dan memiliki kemampuan ekspor adalah produk minuman jadi, pakaian jadi bukan rajutan, barang dari kulit dan kertas karton.

Sektor industri pengolahan tercatat sebagai sektor dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi ketiga DIY. Data BPS DIY kuartal pertama 2025 menyebutkan, distribusi penduduk bekerja tertinggi ada di pertanian sebesar 24,82 persen.

Setelah itu, sektor perdagangan dengan penyerapan tenaga kerja 18,31 persen, serta sektor industri pengolahan sebesar 15,10 persen.

Ketiga sektor itu hingga Februari 2025 tercatat memiliki pertumbuhan positif dalam penyerapan tenaga kerja yang berarti masih memiliki kemampuan untuk menambah jumlah tenaga kerja meskipun dengan persentase yang relatif kecil.

Tingkatkan Kewaspadaan

Berdasarkan pada data dan inforrmasi tersebut diatas, Kadin DIY mengajak para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi.

Kewaspadaan dengan melakukan konsolidasi internal antar pelaku ekonomi dan pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya agar tercipta kesadaran untuk meningkatkan ketahanan (resilience) terhadap potensi resiko ekonomi.

Hal inilah yang melatarbelakangi pembentukan Komite Ketangguhan Ekonomi Jogjakarta (Jogjakarta Economic Resilience Committee – JERC) yang merupakan inisiasi dari beberapa lembaga di DIY.

Lembaga tersebut seperti Kadin DIY, ISEI DIY, lembaga lain. Lembaga ini bersifat nonprofit dan didirikan secara sukarela yang didedikasikan untuk menjaga kondusivitas perekonomian di DIY.

Tujuan pembentukan komite sebagai wadah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika eksternal dan internal yang berpotensi mempengaruhi kemampuan perekonomian DIY.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.