Wisatawan Berpotensi Membawa Malaria, Jangan Sampai Lengah!

oleh -567 Dilihat
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X.(Foto: Humas Pemda DIY)

 

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie, menyampaikan harapannya agar eliminasi malaria di DIY benar-benar dapat tercapai pada tahun 2025. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan ke depan juga bergantung pada banyaknya event positif yang mendukung kesejahteraan masyarakat DIY serta kemampuan mempertahankan predikat baik terkait status bebas malaria.

 

JOGJA, bisnisjogja.id – Kasus malaria sempat meningkat sangat tinggi pada tahun 2000 akibat krisis ekonomi 1998. Selanjutnya, kasus menurun kembali hingga mencapai tahap eliminasi saat ini.

Ketua Komisi Penilaian Eliminasi Malaria Nasional, Dr dr Ferdinan J Laihad MPH mengungkapkan itu ketika berdialog dengan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X. Dialog dalam rangka pertemuan Tim Asesmen Eliminasi Malaria 2025 di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan Yogyakarta.

”Perjuangan melawan malaria sudah cukup panjang, mulai dari arsip sebelum perang hingga masa Bung Karno yang menyemprot di Jogja,” ungkap Ferdinan.

Menurut Ferdinan, kerja sama lintas sektor dan peran masyarakat sangat penting. Terutama di daerah wisata seperti DIY yang banyak kedatangan wisatawan dari luar yang berpotensi membawa parasit malaria.

Ia juga menyoroti pentingnya pendokumentasian perjalanan eliminasi malaria sebagai warisan yang dapat menjadi referensi dan motivasi untuk mempertahankan capaian tersebut.

”Jika parasit terbawa masuk, nyamuk yang ada bisa menjadi vektor penularan baru. Kita harus menjaga eliminasi ini dengan pengawasan migrasi yang ketat dan partisipasi aktif masyarakat,” jelasnya.

Lintas Sektoral

Paku Alam mengatakan, mewujudkan eliminasi malaria perlu kolaborasi lintas sektoral yang serius. Hal ini karena dalam pelaksanaannya DIY memiliki tantangan khusus sebagai daerah wisata, pendidikan, serta pusat pertukaran antar wilayah dan negara yang berpotensi menimbulkan kasus impor malaria.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan kearifan lokal serta kerja sama dengan perguruan tinggi untuk mendukung keberhasilan program.

”Melalui asesmen, kita berharap dapat memperkuat langkah-langkah penanggulangan dan memastikan capaian eliminasi malaria pada 2025,” ujarnya.

Perwakilan WHO Indonesia, Dr Herdiana Hasan Basri MKes MEpi memberikan apresiasi tinggi atas perjuangan DIY dalam eliminasi malaria, yang dianggapnya sebagai tonggak sejarah penting bagi Indonesia.

Yogyakarta sudah sejak lama, bahkan pada tahun 1959 ketika Presiden Soekarno mencanangkan penyemprotan di Kalasan yang kemudian menjadi Hari Kesehatan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.