JOGJA, bisnisjogja.id – Ketersediaan bahan baku untuk membuat menu makan bergizi gratis perlu menjadi perhatian. Masing-masing daerah bahkan sekolah lebih baik membuat menu berbeda supaya bahan baku terjaga.
”Strategi tersebut untuk menghindari kelangkaan atau kekurangan bahan baku tertentu,” ungkap
Dosen Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Agung Nugroho AMG MPH, Kamis (16/1/2025).
Ia memberi contoh satu dapur memerlukan 3.000 telur, dikali beberapa lokasi dalam satu daerah. Ketika bersamaan bisa terjadi kelangkaan. Karena itu manajemen bahan pangan harus bagus dan tertata.
Kebutuhan Gizi
Mengenai anggaran Rp10.000 per porsi untuk memenuhi kebutuhan gizi, Agung menyebut bisa. Kendati demikian, ia juga mengatakan harus melihat daerah pelaksanaan. Pasalnya, beberapa daerah harga untuk bahan baku cukup mahal.
”Mungkin kalau Maluku atau Papua untuk memenuhi Rp10.000 susah, karena harga bahan pangan mereka sudah tinggi, tapi itu kan bukan patokan mati. Sangat tidak mungkin kalau semua daerah Rp10.000,” jelasnya.
Ia mengatakan setiap menu tentu sudah ada ketentuan standar gizinya. Menentukan menu menurutnya sudah ada ahli gizi dengan panduannya.
Selera Makan
Salah satu yang menjadi tantangan adalah menyesuaikan rasa makanan dengan selera ribuan orang yang menerima program makan bergizi gratis. Ia menyarankan pelaksana melihat sisa makanan.
”Misal satu menu banyak tersisa, ini perlu evaluasi perlu ganti atau bagaimana. Pencatatan menu yang habis atau tidak juga penting,” imbuh Agung.
Selera orang berbeda-beda sehingga dalam tahal awal perlu pemantauan supaya pada tahap selanjutnya sudah ada solusi.





