JOGJA, bisnisjogja.id – Sudah waktunya pemerintah memberi ruang lebih terbuka bagi kompetitor Pertamina untuk memasuki pasar energi.
”Di banyak daerah, masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan bahan bakar yang disediakan oleh Pertamina, meskipun dengan harga dan kualitas yang tidak ideal,” ungkap Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Prof Gabriel Lele.
Monopoli industri minyak dan gas menjadikan masyarakat tidak punya opsi lain, bahkan untuk sekadar menyuarakan ketidakpuasan.
Ia mengatakan kasus yang terjadi beberapa tahun tentunya berpotensi dan berdampak kerusakan pada kendaraan.
Kepercayaan Turun
Hal itu tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga menurunkan kepercayaan pada pemerintah dan BUMN secara keseluruhan.
”Jika Pertamina tidak segera melakukan reformasi internal, kasus ini bisa berimbas pada sektor investasi, terutama dari pihak asing yang tentu mempertimbangkan stabilitas dan transparansi dalam menanamkan modal,” papar Gabriel.
Ia mengusulkan, sebagai langkah perbaikan, pentingnya membangun mekanisme pengawasan yang melibatkan publik, bukan hanya pengawasan internal.
”Minimal transparansi, syukur-syukur ada partisipasi publik dalam mengawasi kebijakan strategis Pertamina. Jika tidak ada reformasi nyata, kita hanya akan melihat skandal yang sama terulang di masa depan,” tandasnya.







