- Brain rot merupakan metafora yang menggambarkan kemerosotan kualitas anak akibat paparan konten digital yang berlebihan dan tidak tersaring.
- Ketergantungan pada hiburan instan membuat anak sulit menikmati proses belajar yang membutuhkan kesabaran dan konsentrasi.
- Dengan kesadaran, pendampingan, dan keteladanan yang tepat, orangtua dapat mengubah teknologi dari ancaman menjadi sarana tumbuh kembang yang positif bagi anak.
PADA zaman yang terus berkembang, teknologi digital telah mengubah cara berinteraksi anak-anak dengan dunia. Teknologi tersebut adalah gawai. Gawai yang dahulu sebagai alat dan sarana komunikasi kini menjelma menjadi pusat dan sumber hiburan bagi anak-anak. Bahkan menggantikan peran orangtua dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut menandai pergeseran pola pengasuhan dan interaksi anak, gawai sering kali mengambil alih peran dalam dialog, permainan, dan pendampingan emosional.
Dalam konteks tersebut, munculah istilah ”brain rot” yang berarti pembusukan otak. Brain rot merupakan sebuah metafora yang menggambarkan kemerosotan kualitas atensi, kedalaman berpikir, dan kepekaan emosional anak akibat paparan konten digital yang berlebihan dan tidak tersaring.
Brain rot tidak dimaknai sebagai kerusakan otak secara medis, melainkan sebagai gejala sosial yang menunjukkan seorang anak terbiasa dengan humor-humor yang dangkal.
Selain itu, cepat menerima informasi tanpa tahu kebenarannya. Pola ini berpotensi menghambat perkembangan nalar kritis dan kognitif pada anak dalam jangka panjang.
Sulit Menikmati Proses Belajar
Brain rot pada anak dapat dikenali melalui sejumlah karakteristik yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Anak cenderung memiliki rentang fokus dan konsentrasi yang pendek dan mudah kehilangan perhatian ketika tidak mendapatkan stimulasi visual atau audio, sehingga menyebabkan ketergantungan atau kecanduan.
Ketergantungan pada hiburan instan inilah yang membuat anak sulit menikmati proses belajar yang membutuhkan kesabaran dan konsentrasi. Bahasa dan humor dalam konten hiburan anak sering kali bersifat absurd, repetitif, minim makna, sehingga membuat anak meniru konten digital yang mereka konsumsi.
Orangtua memegang peran penting sebagai pengendali akses bagi anak dalam menggunakan teknologi seperti gawai. Namun demikian, realitas menunjukkan adanya pergeseran peran, dari pendidik yang aktif menjadi pihak yang menyerahkan pengasuhan kepada gawai.
Gawai kerap menjadi solusi instan untuk menenangkan anak, mengisi waktu luang, dan menghindari konflik tanpa disertai pendampingan yang memadai. Akibatnya, fungsi edukatif dan emosional orang tua perlahan tergantikan oleh layar, yang bekerja berdasarkan algoritma tanpa mempertimbangkan kebutuhan perkembangan psikologi anak.
Pembiaran Menggunakan Gawai
Pemicu brain rot pada anak adalah orangtuanya sendiri. Bukan dengan niat yang sengaja, melainkan melalui pembiaran penggunaan gawai tanpa pendampingan dan pengawasan yang memadai.
Kurangnya literasi digital membuat sebagian orangtua tidak memahami algoritma bekerja dan konten tertentu dapat memengaruhi pola pikir anak.
Jika terjadi pembiaran dan pengacuhan, brain rot dapat membawa dampak jangka panjang pada perkembangan anak. Kemampuan berpikir menjadi dangkal karena terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa proses analisis.
Hal itu berdampak pada emosional anak, yang membuat emosi anak cenderung tidak stabil, mudah bosan, dan sulit mengelola rasa frustrasi.
Akibat ketergantungan, interaksi sosial anak pun ikut berkurang yang menyebabkan menurunnya kemampuan komunikasi tatap muka, kesulitan membangun empati, serta berkurangnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Anak bukanlah pihak yang patut disalahkan dalam fenomena itu. Secara kognitif dan emosional, anak belum memiliki kemampuan untuk mengontrol diri dan memilah atau menyaring konten secara mandiri.
Karena itu, tanggung jawab utama tetap terletak pada orang dewasa, khususnya orangtua, sebagai pihak yang memiliki otoritas, pengetahuan, dan kendali dalam membentuk lingkungan tumbuh kembang anak.
Anak Butuh Pendampingan
Solusi fenomena brain rot tidak terletak pada pelarangan total penggunaan gawai, melainkan peran aktif orangtua dalam pendampingan digital anak. Orangtua perlu melakukan pemilahan konten sesuai usia dan kebutuhan perkembangan anak. Penting pula membangun dialog terbuka mengenai konten media digital.
Selain itu, orangtua juga harus membatasi waktu bermedia digital. Jelaskan dan edukasi yang mendidik bukan sekadar larangan. Dengan begitu, orangtua dapat menunjukkan penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, fenomena brain rot pada anak merupakan cerminan dari krisis pengasuhan dan pendampingan di tengah arus digital yang semakin kuat.
Fenomena ini menegaskan, masalah utama bukan terletak pada teknologi atau anak melainkan kesiapan orangtua menjalankan peran pengasuhan dan pendampingan.
Dengan kesadaran, pendampingan, dan keteladanan yang tepat, orangtua dapat mengubah teknologi dari ancaman menjadi sarana tumbuh kembang yang positif bagi anak. Karena itu, orangtua harus hadir kembali secara utuh kepada anak, tidak hanya secara fisik tetapi juga emosional.
- Penulis, Anthony Tristan Budisantoso, siswa SMA Kolese De Britto Kelas X





