MALAM itu, Rabu 30 Oktober 2024, dengan hati yang sedikit gulana, saya bertekad menghadiri pertunjukan besutan Mas Butet Kertaradjasa, ”Si Manis Jembatan Merah” di Taman Budaya Yogyakarta. Saya bertekad hanya ingin menikmati pertunjukan dari awal sampai akhir dan bersiap terpingkal-pingkal tanpa berpikiran apa-apa.
Bahkan saya tidak mengunduh QR code yang menyajikan sinopsis pertunjukan yang dipajang di pintu utama. Juga kebetulan sedang tidak membaca resensi pertunjukan sebagaimana biasa saya lakukan sebelumnya. Sengaja datang tepat ketika pertunjukan akan dimulai.
Sedikit mengantri di pintu masuk, lalu duduk untuk bersiap melupakan kengelangutan, yang sedang melanda hati. Ibadah kebudayaan itu, seperti biasa dibuka oleh Mas Romo Butet Kertaradjasa, dengan jampi-jampi selamat datang.
Ritual Tertawa
Saya tersenyum membayangkan betapa jenialnya mas Butet mengistilahkan nonton opera sebagai ibadah. Ibadah tentu mengandung ritual serta kewajiban untuk selalu datang, di rumah ibadah dan menjalankan ritualnya.
Ritual ngguyu sak kemenge, tertawa sepuasnya sampai pegal, melepaskan endorphin, mengaktifkan hormon bahagia yang membuat hati tenang dan damai..
Jadilah di sepanjang pertunjukan, saya menikmati adegan demi adegan yang ditata lumayan apik, mulai monolog ngalor-ngidul, pating blasurnya Mbak Inayah, adegan perdebatan njelehi, ngayelke dari Cak Lontong.
Den Baguse Ngarso, yang selalu memainkan peran kementhus ning jirih, arogan tapi penakut. Mbah Marwoto yang energinya seperti tidak habis-habis, menikmati suara merdunya Mbak Silir. Jadilah sepanjang pertunjukan itu, perut bongko, perut kaku saking terlalu banyak tertawa.
Suasana Gembira
Sampun, sudah, hanya itu. Sepanjang pertunjukan, saya tidak mencari-cari maknanya apa, atau bermaksud menyindir siapa. Cukup tertawa dari awal sampai akhir sejenak melupakan gulana hati. Sahabat-sahabat saya yang juga menonton malam itupun, sama menyatakan puas, marem tertawa.
Suasana gembira, di akhir pertunjukan, foto-foto dengan para artis, Mbak Inayah, Cak Lontong, Mas Romo Butet yang bermain dengan penuh semangat dan berstamina di sepanjang pertunjukan. Romo Butet lalu menyampaikan bahwa ibadah kebudayaan berikutnya, akan diselenggarakan di Jakarta dan akan bertajuk ”Putra Sang Maestro”.
Cuaca Yogya yang panas, terbawa sampai menghangatkan gedung pertunjukan. Taman Budaya Yogyakarta yang yang biasanya dingin karena AC, adhem njekut, malam itu dipenuhi suasana gembira dan cair.
Tengah malam buta, rombongan kami, ibu-ibu yang cantik perkasa, gagah jelita pulang. Di dalam mobil, juga di WAG, tak henti kami membahas lucunya pertunjukan. Sampai di rumah, tidur nyenyak sampai pagi dengan masih senyum-senyum tentu saja.
Rekayasa Sosial
Paginya, saya menyapa seorang sahabat yang tidak sempat ngobrol ketika jumpa di pertunjukan semalam. Suasana sibuk kala itu, sangat asyik foto bersama Mas Nasirun dan beberapa seniman besar yang hadir memeriahkan pertunjukan di TBY, membuat terlupa saling berkabar.
Tiba-tiba, sahabatku bertanya, ”Mbak, apa ya makna Si Manis Jembatan Merah dengan situasi politik Indonesia sekarang. Apa coba maknanya? Gak ada hubungannya kan?”
Duh apa ya? Saya lama menjawab, bahkan nyaris menyarankan untuk bertanya kepada penulis skenarionya. Agus Noor. Lalu saya mengingat, bahwa seniman besar, tentu punya ruang yang sangat besar untuk mempengaruhi imaji orang-orang untuk menafsirkan sendiri karya-karya besarnya.
Lalu saya menjawab, terjadilah diskusi, bahwa pertunjukan semalam memberi kesadaran bahwa mitos kemungkinan adalah rekayasa sosial yang dibuat untuk mengarahkan pada tujuan tertentu.
Mitos Si Manis
Mencoba mensetarakan mitos Si Manis Jembatan Merah dengan mitos Raja Jawa, Mitos Ratu adil dan lainnya. Mitos itu dibuat secara sengaja, dan tidak ada fakta yang sebenarnya terjadi di balik mitos tersebut. Dalam cerita Si Manis Jembatan Merah, tidak ada hantu Si Manis.
Yang ada hanyalah seorang nenek yang bekerja sama dengan sang dalang, untuk menghilang, sehingga seorang politikus yang sedang berkampanye di daerah itu dapat dijatuhkan, dituduh telah berkomplot menculik sang nenek.
Mitos hanya digunakan sebagai latar adegan untuk mencapai tujuan yang sebenarnya. Sampai di sini benak saya melayang-layang. Bukankah selama lebih satu dekade, kita semua pernah terpesona, kedatangan Ratu Adil?
Ancaman Demokrasi
Kita terpesona, gumun, tibanya seorang pemimpin yang digadang menyerupai Ratu Adil, di tengah masyarakat yg tengah merindukan pemimpin yang mensejahterakan bangsa negaranya. Sempat pemujaan itu, kegumunan itu, menyebabkan kita menjulukinya sebagai pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Rasa gumun berakhir di hadapkan kenyataan perilaku nepotis yang mengancam kehidupan demokrasi, menafikkan meritokrasi, keadilan.
Sampai di sini saya berbenti menulis sejenak. Gagap. Sedari mula ingin menonton saja, ingin tertawa saja, tidak ingin menafsirkan apa-apa. Tapi diskusi dengan seorang sahabat begitu sayang apabila tidak dibagi.
Bahkan sahabat saya itu menambahkan makna pertunjukan, jangan-jangan hantu sebenarnya dalam mitos adalah penguasa yang lalim dan tidak adil. Sampai di sini saya tertegun.
- Penulis, Sithowati Sandrarini, pemerhati kesenian dan kebudayaan, warga ”Njeron Beteng” Kraton, Yogyakarta





