Kelompok mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikti Saintek RI). Lebih dari sekadar lolos, mereka membawa misi mulia memberdayakan masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Desa Margokaton, Seyegan, Sleman, agar mampu keluar dari keterbatasan ekonomi.
JOGJA, bisnisjogja.id – Pemberdayaan masyarakat menjadi penting terlebih dalam situasi ekonomi yang sedang tidak baik. Mereka dapat menjadi bagian dari perwujudan ekonomi kerakyatan melalui berbagai langkah inovatif dan kreatif.
Kondisi tersebutlah yang mendorong Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HIMA UMY) membuat program inovatif. Mereka berhasil membawa nama almamater hingga tingkat nasional.
Kelompok mahasiswa tersebut lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikti Saintek RI).
Lebih dari sekadar lolos, mereka membawa misi mulia memberdayakan masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Desa Margokaton, Seyegan, Sleman, agar mampu keluar dari keterbatasan ekonomi.
”Inisiatif kami lahir dari keprihatinan atas kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat. Banyak warga masih berada di bawah garis kesejahteraan,” ungkap Ketua Tim, Muhammad Zafir.
Ia melihat UMKM menghadapi tantangan besar, mulai dari minim inovasi produk, kesulitan akses pasar, hingga rendahnya literasi digital. Padahal, Desa Margokaton memiliki potensi besar dari ragam UMKM lokal dan komoditas utama berupa kelapa.
Pembangunan Desa
Melalui program perdana di PPK Ormawa, HIMA Akuntansi UMY mengusung tema ”Pemberdayaan Masyarakat Prasejahtera dan UMKM Desa Margokaton Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Mewujudkan Margokaton Preneur 2028”.
Tema tersebut bukan sekadar slogan, tetapi peta jalan pembangunan desa berbasis kewirausahaan hingga empat tahun ke depan.
Didampingi dosen pembimbing, Erni Suryandari SE MSi, tim menghadirkan berbagai program pemberdayaan. Yang paling menonjol adalah pendirian kelompok usaha rintisan bernama ”Omah Kelapa”.

”Kami berkomitmen mengolah kelapa secara menyeluruh. Daging kelapa diolah menjadi VCO (Virgin Coconut Oil) sedangkan limbahnya menjadi pupuk organik cair. Tidak ada yang terbuang, semuanya bernilai,” jelas Zafir.
Konsep itu mencerminkan prinsip ekonomi sirkular yang ramah lingkungan sekaligus berdaya saing.
Selain itu, tim juga menjalankan program lain yang tak kalah penting, seperti GEMPAR (Gerakan Masyarakat Produktif dan Mandiri) untuk melatih dan membimbing UMKM, Revitalisasi BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) untuk mengoptimalkan peran lembaga desa dalam ekonomi local, dan MargoWira Katalis, pendampingan legalitas usaha agar para pelaku UMKM bisa memiliki sertifikasi dan legalitas yang sah.
Semua program dirancang untuk menghasilkan luaran nyata, seperti modul pelatihan, rumah produksi, hingga sertifikasi usaha bagi warga desa.
Peta Jalan
Zafir optimistis dengan peta jalan yang telah disusun, Desa Margokaton akan bertransformasi signifikan. Tahun 2025 adalah tahap perintisan, 2026 fokus penguatan kapasitas, 2027 peningkatan keberlanjutan, dan pada 2028 Margokaton siap mandiri sebagai desapreneur.
Program mahasiswa menyasar berbagai lapisan, mulai dari warga prasejahtera, pemuda, pelaku UMKM, hingga pengurus BUMDes.
”Kami berharap dapat tercipta ekosistem ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan. Masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya, peningkatan pendapatan maupun terbukanya lapangan kerja baru,” papar Zafir.
Menurut tim, keberhasilan mereka bukan hanya soal pengabdian, tetapi juga proses pembelajaran. Ia juga berharap program tersebut memperkuat kapasitas mereka sebagai mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat, sekaligus menjadi pijakan untuk lolos ke Abdidaya tahun depan.





