”Kita belum cukup kuat di sektor hulu. Ini menjadi tantangan bagi Muhammadiyah, bagaimana pengelolaan sektor produktif dapat lebih serius kita garap ke depan”.
SLEMAN, bisnisjogja.id – ”Kita sering terjebak pada penguatan sektor hilir, seperti distribusi bantuan pangan, sembako, makanan siap saji. Namun, kita belum cukup kuat di sektor hulu. Ini menjadi tantangan bagi Muhammadiyah, bagaimana pengelolaan sektor produktif dapat lebih serius kita garap ke depan,” tandas Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Hilman Latief.
Ia menyampaikan itu pada acara Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI) yang menggelar Studentpreneur Bootcamp 2025.
Kegiatan yang berlangsung di Ballroom UMY Student Dormitory mengusung tema ”Becoming Muslim Technopreneur”, kerja sama dengan Badan Otorita Borobudur (BOB). Peserta berasal dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) seluruh Indonesia.
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Hilman Latie menekankan pentingnya generasi muda Muhammadiyah agar tak hanya aktif dalam gerakan sosial keumatan. Mereka juga bisa mengambil peran strategis penguatan sektor ekonomi berbasis teknologi dan kemandirian.
”Saat ini Muhammadiyah telah memiliki lebih dari 70 unit usaha di bawah berbagai badan dan majelis, serta turut aktif dalam revitalisasi ekonomi umat,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi pekerja, melainkan pengusaha yang mampu mengelola sektor hulu, seperti produksi pangan, pengolahan produk pertanian, hingga sektor teknologi berbasis industri kreatif.
Beri Solusi
Menurut Hilman, pada era sekarang, para pengusaha global seperti Bill Gates dan Jack Ma bahkan telah menghubungkan bisnis teknologi mereka dengan isu-isu kemanusiaan dan keberlanjutan.
”Muhammadiyah juga harus mengambil peran di sini, bagaimana bisnis teknologi Muslim bisa memberikan solusi untuk masyarakat,” pintanya.
Ia juga menyinggung potensi besar pengelolaan zakat, infak, dan wakaf Muhammadiyah yang selama ini masih dominan untuk kebutuhan sosial dan infrastruktur keagamaan. Sudah saatnya potensi besar tersebut untuk mendorong sektor produksi dan kemandirian pangan.
”Wakaf tidak hanya untuk membangun masjid atau sekolah, tetapi juga membangun pusat-pusat produksi pangan, pusat distribusi, bahkan penguatan usaha rintisan milik mahasiswa,” harap Hilman.
Ia juga menyampaikan Muhammadiyah saat ini telah berperan aktif dalam program-program pemerintah seperti revitalisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), penguatan Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM), serta berbagai program penguatan ekosistem UMKM lokal.
Salah satunya adalah kolaborasi dengan Badan Otorita Borobudur yang menjadi bagian dari pengembangan kawasan wisata strategis nasional.





