SLEMAN, bisnisjogja.id – Keberhasilan memimpin keberlanjutan menuntut kecakapan spesifik yang harus dikuasai oleh generasi mendatang. Mahasiswa sebagai agen kunci untuk menjembatani upaya net zero dengan praktik industri, memastikan Indonesia memiliki pemimpin yang bertanggungjawab di masa depan.
Ketua Departemen Manajemen FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), M Parnawa Putranta PhD mengungkapkan itu dalam kuliah umum bertajuk ”The Sustainability Leadership Guest Lecture Series”.
Kuliah umum kali ini menyoroti prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan strategi transisi nol bersih (Net Zero) telah bergerak dari sekadar ide menjadi praktik inti dalam pembentukan value bagi bisnis, pemerintah, dan komunitas.
”Sebagai bentuk komitmen, Program Studi Manajemen FBE UAJY secara proaktif telah membekali mahasiswa dengan keahlian yang relevan mengenai keberlanjutan melalui mata kuliah Sustainable and Green Management yang menjadi mata kuliah wajib sejak tahun 2022,” papar Parnawa.
Kuliah umum menegaskan bahwa kepemimpinan berkelanjutan adalah prasyarat keberhasilan ekonomi di masa depan. Kolaborasi antara organisasi konservasi, regulator keuangan, dan bank besar menjadi kunci dalam mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab ekologi serta sosial.
”Menguasai bahasa ESG merupakan tantangan keterampilan teknis mahasiswa untuk keberlanjutan,” tandasnya.
Jangka Panjang
Chief Conservation Officer WWF Indonesia, Dewi Rizki menjelaskan pentingnya keberlanjutan menyeimbangkan perekonomian, masyarakat, dan planet dalam jangka panjang.
”Konsep ini penting karena isu-isu global seperti iklim, ketidaksetaraan, dan lapangan kerja saling terhubung, serta adanya tuntutan transparansi dari investor dan konsumen,” jelas Dewi. Kerangka ESG menurutnya menjadi alat ukur keberlanjutan dan tanggung jawab organisasi.

Sementara itu, Senior Vice President Infrascructure Finance & Sustainability PT Bank HSBC Indonesia, Jennifer Soplanit mengungkapkan dalam konteks nasional, penerapan ESG dibuktikan dengan adanya OJK Sustainable Finance Roadmap Phase II (2021–2025), Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), serta kehadiran bursa karbon nasional (IDXCarbon).
Namun demikian, implementasi proyek berkelanjutan masih menghadapi berbagai tantangan nyata. Mahasiswa pun didorong untuk menguasai bahasa ESG sebagai keterampilan masa depan, karena keberlanjutan bukanlah tren tetapi kepemimpinan.
Jennifer juga memaparkan strategi perbankan global melalui Net Zero Transition Plan (NZTP) HSBC. Strategi NZTP HSBC berfokus pada tiga pilar yakni membantu transisi industri yang padat karbon, mengkatalisis ekonomi baru melalui pendanaan inovasi, dan mendekarbonisasi rantai pasok dan perdagangan.
Perusahaannya telah menetapkan target pengurangan emisi yang didanai secara spesifik per sektor, seperti minyak dan gas, dan utilitas listrik.
”Untuk memfasilitasi hal itu, bank menawarkan berbagai skema pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance), termasuk model use of proceeds (misalnya green bond) dan Sustainability-Linked Format,” jelasnya.





