Sampah Dapur Ternyata Bisa Jadi Pakan Ayam Kaya Nutrisi

oleh -1 Dilihat
PAKAN: Mahasiswa KKN UGM mengubah limbah dapur menjadi pakan ternak.(Foto: Dok UGM)

BALI, bisnisjogja.id – Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) Nirwana Nusa Penida menghadirkan solusi inovatif ketahanan pangan di Pulau Nusa Lembongan, Bali.

Melalui program pertanian terpadu, para mahasiswa fokus mengolah sampah dapur menjadi pakan ternak berkualitas tinggi untuk menghasilkan telur berstandar omega.

Anggota tim KKN dari Fakultas Peternakan, Mutia Rahma Nursukayat, menjelaskan bahwa pakan alternatif ini memanfaatkan sisa nasi dan lauk rumah tangga yang dicampur dengan jagung, vitamin, serta mineral.

Formula khusus tersebut terbukti kaya akan kandungan beta-karoten yang berfungsi sebagai pigmen alami untuk meningkatkan kualitas nutrisi telur.

Guna mendongkrak kandungan gizinya, tim juga memanfaatkan komponen hayati pesisir yang kaya akan plankton alami.

“Kami mencoba mencampurkan sisa nasi, lauk dengan premix dan beberapa plankton sehingga menghasilkan telur berstandar omega yang dilihat dari warna kuning telurnya,” ujar Rahma.

Pemberian Pakan Baru

Program percontohan skala rumah tangga ini dilaksanakan di kediaman seorang alumni UGM, Wahyu Yoga, sepanjang 3 Juli hingga 25 Juli 2026. Selama masa pendampingan, mahasiswa memantau secara ketat manajemen pemeliharaan ayam Kampung Unggulan Balitbangtan (KUB) serta efektivitas pemberian pakan baru tersebut.

Hasilnya, perubahan warna kuning telur (yolk) menjadi oranye cerah mulai terlihat dalam waktu satu minggu tanpa menurunkan produktivitas ayam.

“Kerabang telur teramati memiliki struktur yang tampak lebih tebal dan kuat dari sebelumnya, diduga berkaitan dengan asupan mineral, serta formulasi pakan,” tambah Rahma.

Kualitas produk ini juga telah diuji secara langsung melalui pengolahan pangan siap saji di tingkat keluarga.

Terapkan secara Mandiri

“Orang-orang di rumah awalnya khawatir sandwich ini akan berbau amis seperti telur bebek, namun setelah dicoba, ternyata sama sekali tidak amis, malah enak,” ungkap Wahyu Yoga.

Pemilik peternakan setempat, Wayan Sukarata, menyambut positif program ini dan menyatakan siap menerapkannya secara mandiri usai masa KKN berakhir.

“Saya akan melanjutkan untuk pemberian pakan menggunakan premix ini, saya juga akan mencoba untuk diberikan ke ayam betina yang telurnya buat anakan,” tuturnya antusias.

Melihat keberhasilan tersebut, program ini kemudian diperluas ke area Kebun Dharma dengan menerapkan konsep integrated farming bagi berbagai jenis unggas. Inovasi sirkular ini tidak hanya berhasil menekan limbah organik rumah tangga, tetapi juga sukses mendongkrak nilai

No More Posts Available.

No more pages to load.