”YA sebenernya pengen punya gaji besar, punya kendaraan layak, tidak kehujanan. Tapi ya piye anak, istri di Jogja, dan bisa merawat anak. Selain itu bisa melihat dan merawat orang tua. Itu merupakan kebahagiaan yang tidak bisa dinilai. Mengko kabeh lak dicukupke (nanti semua akan dicukupkan)”.
Kutipan tersebut merupakan ungkapan seorang yang tinggal di Yogyakarta ketika sudah memilih untuk menetap di kota kelahiran. Kesadaran bahwa pendapatan yang tinggi bukan segalanya. Tapi pilihan itu yang kadang membuat mereka mampu untuk bertahan.
Hal itu mengisyaratkan kehidupan tidak hanya sekadar material. Mereka menganggap ada harta yang lebih berharga. Keharmonisan keluarga, bisa menunggui orangtua. Bahkan, sebagian lain menganggap bisa ikut merawat orang tua adalah rejeki yang tak ternilai.
Romantisme membuat mereka mau berjuang, tidak hanya mengejar uang. Rezeki bisa dari berbagai macam, bukan harta material semata. Cinta dan kebahagiaan menjadikan mereka terus bertahan d tengah himpitan ekonomi yang tentu tidak mudah.
Tingkat spiritual yang tentu saja tidak mudah diterima bagi otak rasional yang prakmatis. bagaimanapun pekerja Yogyakarta tidak hanya mengejar materi, namun lebih jauh mereka mencari kebahagiaan.
Tingkat Ekonomi Masyarakat
Pada era sekarang, tuntutan ekonomi tidak mudah. Di sisi lain mereka juga masih mau untuk terus menjaga keharmonisan dengan keluarga, dan lingkungan sosial. Meski sebetulnya mereka dapat saja bersaing di perantauan.
Upah minimum DIY yang tidak begitu tinggi, jauh dari kata fantastis. Penghasilan itu masih sangat cukup untuk hidup. Realitasnya, banyak yang masih bisa bertahan sampai hari ini.
Yogyakarta tergolang provinsi ”miskin” di Pulau Jawa. Kendati demikian, mereka masih sangat mungkin untuk bersaing. Kota tersebut mempunyai indeks pembangunan manusia tertinggi kedua di seluruh Pulau Jawa.
Tingkat IPM tahun 2021, 80,22 bahkan tahun 2025 sudah menunjukan tren yang sangat signifikan mencapai 82,48. Ini hanya kalah dengan DKI Jakarta yang saat ini masih menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat ekonomi.
Angka itu tidak bisa bisa dianggap sederhana karena menandakan masyarakat cukup mempunyai tingkat pengetahuan. Selain itu, angka harapan hidup juga tinggi. Hal ini sudah cukup untuk mereka yang ingin berkompetisi di luar kota.
Ternyata orang Yogyakarta masih merasa bahagia. Data BPS mencatat kebahagiaan pada tahun 2021 adalah 71,70. Ini termasuk salah satu tertinggi di Pulau Jawa. Hidup terhindar dari perasaan takut, kekhawatiran dan perasaan-perasaan cemas yang kerap menghinggapi pekerja di kota urban lain.
Mereka bahagia dengan kehidupannya. Keharmonisan keluarga, keseimbangan hidup. Mereka masih dapat bersosialisasi dengan tetangga dengan akrab dan dekat. Menjaga relasi dengan tetangga, yang sebagian menganggap sebagai keluarga karena jaraknya tak terlampau jauh.
- Penulis, Ferrynela Purbo Laksono, staf pengajar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta







