JOGJA, bisnisjogja.id – Pasar saham mengalami dinamika bahkan sempat anjlok. Namun demikian, hal itu bisa menjadi peluang bagi yang ingin memiliki saham karena mumpung harga rendah.
”Setelah mengalami penurunan tajam beberapa waktu lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum menunjukkan pemulihan yang stabil,” ungkap Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, I Wayan Nuka Lantara PhD, Jumat (11/4/2025).
Sentimen global yang negatif, harga komoditas yang melemah, hingga tren inflasi semakin menambah ketidakpastian.
Namun demikian, kondisi saat ini tetap bisa dimanfaatkan investor pemula untuk belajar berinvestasi. Ia menekankan pentingnya sikap bijak dalam mengelola keuangan pribadi.
”Sekarang ini sebenarnya justru bisa jadi waktu yang bagus untuk masuk, karena harga saham sedang diskon. Tapi bukan berarti asal beli. Pilih yang fundamentalnya kuat dan masa depannya cerah,” papar Wayan.
Sebelum memulai investasi, lanjut Wayan, masyarakat harus memastikan kebutuhan konsumsi terpenuhi, memiliki dana darurat yang cukup, baru kemudian mengalokasikan dana untuk investasi.
Ia menyinggung istilah ”mantap” atau makan tabungan yang saat ini tengah marak. Kalau tabungan tipis dan pemula melakukan investasi tanpa dikalkulasikan, akan jebol juga.
Bukan Keberuntungan
Wayan mengingatkan investasi bukan soal keberuntungan atau tren sesaat. Terlebih lagi, dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil, keputusan emosional yang hanya ingin memburu cuan justru bisa memperbesar risiko.
”Jangan sampai keinginan untuk untung besar membuat orang mengorbankan prinsip dasar. Punya penghasilan Rp 10 juta tapi Rp 9 juta diinvestasikan semua, bahkan sampai berani pinjam, itu sangat tidak disarankan,” tandasnya.
Wayan juga menyoroti anomali pasar terkait produk investasi belakangan ini. Contohnya harga emas yang sempat naik, tetapi kemudian turun lagi di tengah pelemahan ekonomi global.
Ia juga menyebut jatuhnya nilai Bitcoin dan saham teknologi di Amerika Serikat yang turut anjlok dengan portofolio merah di berbagai tempat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pola-pola lama tidak lagi bisa dijadikan patokan mutlak. Meski penuh ketidakpastian, ia berpendapat investasi tetap penting untuk menjaga daya beli dalam jangka panjang.
”Jika uang hanya disimpan untuk konsumsi, nilainya akan terus tergerus oleh inflasi. Satu-satunya cara membangun sekoci masa depan ya tetap lewat investasi,” tambah Wayan.







