Shin Tae-yong

oleh -594 Dilihat
Dr Y Sri Susilo.(Foto: istimewa)

SETELAH melatih tim nasional sepak bola Indonesia sejak Desember 2019, akhirnya Shin Tae-yong (STY) diberhentikan PSSI. Pemberhentian tersebut disampaikan Erick Thohir dalam konferensi pers di Jakarta (Senin, 06/01/25).

Erick Tohir (ET) menyatakan pemberhentian tersebut atas dasar evaluasi bersama demi kebaikan sepak bola nasional. Kabarnya STY akan digantikan oleh Patrick Kluivert (PK).

Keputusan PSSI tersebut menimbulkan pertanyaan terutama pendukung Timnas dan STY, termasuk penulis. Seorang pelatih diberhentikan biasanya terkait dengan kinerjanya. Agar lebih obyektif sebaiknya lihat saja prestasi STY selama menjadi pelatih Timnas Indonesia.

Selama melatih timnas, STY memang belum pernah memberikan tropi juara di ajang level Asia Tenggara maupun Asia. Beberapa prestasi STY antara lain medali perunggu SEA Games 2021, runner-up Piala AFF U-23 2023, babak 16 besar Piala Asia 2023, peringkat keempat Piala Asia U-23 2024 sekaligus lolos ke Piala Asia 2027.

Komunikasi Pelatih

Timnas juga nyaris lolos Olimpiade Paris 2024. Terakhir, timnas masih berpeluang untuk lolos di Piala Dunia 2026. Capain STY, harus diakui juga karena naturalisasi pemain.

Menurut penulis STY mampu membentuk timnasdengan permainan berkelas dan enak ditonton. Di samping para pemain mendapat gemblengan, mereka juga disiplin dan bermain penuh semangat.

Lantas mengapa STY diberhentikan atau dipecat? Hasil evaluasi PSSI, salah satu alasan utama yakni komunikasi antara pelatih, pemain dan jajaran terkait. Jika hal tersebut memang terjadi, bukankah STY telah melatih selama lima tahun?

Ia memang tidak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris namun ada penerjemah yang membantu.

Dalam sepak bola banyak pelatih yang berkomunikasi dengan bahasa non Inggris atau sahasa yang berbeda dengan bahasa nasional tim. Jadi menurut penulis, alasan pemecatan STY karena faktor komunikasi kurang tepat.

Harus diakui, faktor komunikasi memang tidak semata-mata faktor bahasa namun juga komunikasi dalam arti luas termasuk hubungan sosial antar individu antar anggota tim. Dengan komunikasi yang baik akan terwujud kekompakan dan kerja sama tim yang baik pula.

Strategi Permainan

Strategi permainan ala Shin Tae-yong mendapat penilaian belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan timnas saat ini. Menurut Erick, timnas membutuhkan pelatih dengan pendekatan taktik yang lebih solid dan mampu diterapkan secara efektif di lapangan.

Apakah alasan yang disampaikan tersebut sudah tepat? Menurut penulis, jawabannya bisa menjadi perdebatan karena tergantung dari sudut pandang melihat strategi permainan.

Terakhir, STY menangani timnas dalam turnamen AFF 2024, ternyata gagal lolos kualifikasi. Hal tersebut sebenarnya sudah diprediksi sejak awal, karena PSSI hanya mengirim timnas dengan pemain U-20. Padahal timnas lain mengirimkan senior. Tentu tidak fair jika kegagalan tersebut digunakan sebagai salah satu pertimbangan pemberhantian STY.

Pemberhentian STY sebagai pelatih timnas memang hak sepenuhnya ketua umum dan jajaran pengurus PSSI. Mereka tentu sudah mempertimbangkan dan memperhitungkan dengan cermat dan matang. Menurut penulis, keputusan tersebut momentumnya tidak tepat. Mengapa?

Cukup Baik

Sampai sebelum dipecat, STY masih menangani timnas pada kualifikasi Piala Dunia 2026. Timnas masih akan bermain empat kali yaitu menjamu Bahrain dan Tiongkok serta melawat ke Australia dan Jepang.

Hasil sementara cukup baik. Jika menang melawan Bahrain dan Tiongkok serta menahan imbang Australia, Timnas Indonesia punya kesempatan tampil di Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan bersama di Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat.

Mengganti STY dengan PK, mungkin PSSI berharap permainan timnas lebih baik dan peluang lolos ke Piala Dunia 2026. Harapan tersebut masuk akal, namun ada ada faktor yang harus diperhatikan.

Dengan waktu yang relatif singkat, PK harus mempersiapkan timnas untuk bermain melawan Australia dan Bahrain di bulan Maret 2025. Mereka harus beradaptasi cepat dan berkomunikasi yang baik agar pelatih, pemain dan staf timnas bisa bekerja sama.

Kita boleh pro dan kontra atas pemecatan STY. Keputusan PSSI harus mendapat dukungan pemangku kepentingan, termasuk supporter. Kita semua berharap Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia.

Di samping itu, timnas asuhan PK dapat berprestasi lebih baik dan menyumbangkan tropi juara. Terakhir, Ketua Umum dan PSSI, tentu harus siap menghadapi ”hujatan” supporter dan netizen jika timnas gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

Kita berharap hal tersebut tidak terjadi. Selamat datang PK di atmosfer sepak bola Indonesia!

  • Penulis, Dr Y Sri Susilo, penggemar sepak bola, mantan Media Officer Real Mataram FC (Kompetisi LPI 2010-2011 & Anggota Dewan Pengawas Yayasan Gadjah Mada Nusa Bakti / PS Gama 1950 Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.