Social Enterprise, Ketika Bisnis Bukan Cuma Urusan Untung

oleh -416 Dilihat
Dosen FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Th Diah Widiastuti SE MSi.(Foto: istimewa)

 

Meski memberikan kontribusi positif, social enterprise menghadapi dilema besar yaitu menjaga keberlanjutan finansial sekaligus mempertahankan komitmen sosial. Beberapa pelaku terjebak pada dua kutub ekstrem — terlalu fokus pada dampak sosial hingga mengabaikan profit, atau sebaliknya, mengedepankan profit sehingga misi sosial memudar.

 

PERNAH dengar istilah social enterprise? Bayangkan sebuah bisnis yang nggak cuma mikirin profit, tapi juga peduli sama lingkungan, memberdayakan masyarakat, dan mendorong perubahan sosial. Kedengarannya idealis? Memang. Tapi di balik itu ada cerita-cerita nyata yang inspiratif.

Social enterprise, atau usaha berbasis sosial, adalah model bisnis yang menggabungkan orientasi profit dengan misi sosial maupun lingkungan. Di Indonesia, konsep ini semakin dikenal sejak awal 2010-an, terutama seiring berkembangnya media digital.

Selain itu, juga meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan, dan kebutuhan solusi inovatif atas masalah sosial. Meski memberikan kontribusi positif, social enterprise menghadapi dilema besar yaitu menjaga keberlanjutan finansial sekaligus mempertahankan komitmen sosial.

Beberapa pelaku terjebak pada dua kutub ekstrem — terlalu fokus pada dampak sosial hingga mengabaikan profit, atau sebaliknya, mengedepankan profit sehingga misi sosial memudar.

Awal kemunculannya di Indonesia nggak seheboh sekarang. Sekitar 2010, istilah social enterprise masih terdengar asing. Namun, laporan British Council (2018) bikin publik mulai melirik, ternyata ada sekitar 342.000 usaha sosial di Indonesia!

Banyak di antaranya digerakkan anak muda, dan hampir setengahnya dipimpin perempuan. Dan sektor yang paling banyak digeluti meliputi pertanian, kerajinan, pariwisata berbasis komunitas, serta layanan sosial.

Jumlah Bertambah

Seiring waktu, jumlahnya terus bertambah. Pandemi sempat bikin pertumbuhan melambat, tapi justru menguji ketahanan mereka. Beberapa malah tumbuh karena kebutuhan akan solusi kreatif dan berbasis komunitas makin besar.

Dari data ini, terlihat kalau usaha sosial bukan cuma tren sesaat. Mereka benar-benar berkembang dan punya dampak nyata.

Tabel 1.
Tren Pertumbuhan
Usaha Sosial Indonesia (2018-2024)
Tahun     Jumlah     Pertumbuhan (%)
2018    ± 342.000          –
2019    ± 365.000        6,7%
2020    ± 380.000        4,1%
2021    ± 405.000        6,6%
2022    ± 432.000        6,7%
2023    ± 458.000        6,0%
2024    ± 487.000        6,3%
Sumber : PLUS (2022)

Social enterprise di Indonesia telah menunjukkan peran penting dalam pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Meski menghadapi dilema antara profit dan misi sosial, peluang untuk berkembang tetap besar.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, maka social enterprise dapat menjadi motor perubahan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga menyejahterakan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.

Du’Anyam, sebagai contoh usaha sosial yang memberdayakan ibu-ibu di Flores lewat anyaman daun lontar. Produknya nggak cuma cantik, tapi juga bawa penghasilan tambahan buat keluarga.

Ada juga Kampung Marketer di Purbalingga, yang ngajarin kerja digital ke anak muda desa supaya mereka nggak harus merantau. Contoh lainnya, Garda Pangan di Surabaya mengurangi sampah makanan sambil mendistribusikan surplus pangan kepada masyarakat kurang mampu.

Dilema Klasik

Nah, di sinilah dilema klasiknya, bagaimana menjaga misi sosial tetap murni sambil bisnis tetap cuan?

Banyak pelaku usaha sosial masih kesulitan cari modal, menghadapi regulasi yang belum berpihak, dan harus mengedukasi pasar yang kadang belum paham kenapa harga produk mereka bisa sedikit lebih mahal.

Kabar baiknya, kesadaran konsumen soal produk etis dan ramah lingkungan makin tinggi. Pemerintah mulai melirik social enterprise sebagai mitra pembangunan. Kalau ada dukungan kebijakan, akses pendanaan inovatif, dan kolaborasi lintas sektor, social enterprise bisa jadi motor penggerak ekonomi berkelanjutan.

Pesan akhirnya, social enterprise bukan sekadar ”bisnis yang baik hati”. Ia adalah model bisnis masa depan, tempat untung dan manfaat sosial berjalan beriringan.

Jadi, mungkin di masa depan, belanja Anda nggak cuma soal membeli barang, tapi juga ikut membangun perubahan.

Daftar Pustaka
British Council. (2018). The State of Social Enterprise in Indonesia. British Council Indonesia.
PLUS (Platform Usaha Sosial). (2022). Tren Perkembangan Usaha Sosial di Indonesia. Jakarta: PLUS.
Du’Anyam. (2024). Our Story. Diakses dari https://www.duanyam.com
Kampung Marketer. (2023). Tentang Kami. Diakses dari https://kampungmarketer.com
Kementerian Koperasi dan UKM RI. (2023). Laporan Kinerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia.

  • Penulis, Th Diah Widiastuti SE MSi, Staf Pengajar Tetap FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.