JOGJA, bisnisjogja.id – Para pengusaha mebel yang tergabung dalam Asmindo merespons kebijakan Presiden AS Donald Trump. Mereka akan bersikap bijak dan tenang sembari menunggu pelaksanaan kebijakan tersebut.
”Bijak dan tenang tapi juga perlu langkah-langkah konkrit untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang,” ungkap Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asmindo, Dedy Rochimat, Minggu (6/4/2025).
Ia minta pernyataanpernyataan yang membuat masyarakat panik sebaiknya dihindari. Pemerintah Indonesia serta para pengusaha perlu membangun kolaborasi dan semangat berbagi dengan berbagainegara.
Asmindo juga menyatakan kejadian tersebut menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi Pemerintah Indonesia dan dunia usaha nasional, untuk bersinergi mengatasi semua hambatan dan rintangan.
”Kami mendorong supaya pemerintah Indonesia merespons kebijakan tarif Pemerintah AS dengan tarif juga. Pemerintah Indonesia perlu melakukan penyesuaian tarif terhadap produk-produk AS,” tandas Dedy.
Tentu dengan tetap mempertimbangkan dampak yang timbil harus sedikit mungkin, sehingga hubungan bilateral Indonesia dan AS tetap terjaga dengan baik.
Industri Mebel
Sekretaris Jenderal Asmindo, Agustinus Purna Irawan menambahkan penetapan dan pengenaan tarif impor terhadap produk mebel Indonesia pada gilirannya akan berdampak pada penurunan daya saing Indonesia.
Saat ini pasar AS adalah tujuan ekspor utama Indoneia. Dari total value ekspor mebel Indonesia sebesar USD 1,3 miliar, porsi ekspor ke AS mencapai 54 persen. Penurunan pada pasar AS pada gilirannya akan berdampak pada pelemahan utilitas industry yang berpotensi berdampak pada pengurangan tenaga kerja.
”Perlu mitigasi dan langkah-langkah strategis dalam menyikapinya,” ujar Agustinus.
Ia menyarankan perlunya kebijakan pengembangan produk dan industri dalam negeri seperti furnitur dan kerajinan. Pasar nasional harus sebesar mungkin dimanfaatkan oleh para produsen produk lokal untuk memasarkan produknya.
”Belanja pemerintah atas berbagai produk dan belanja masyarakat, harus benar-benar mengutamakan penggunaan produk lokal Indonesia,” tegasnya.
Pihaknya juga minta pemerintah memfasilitasi industri padat karya, untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Dampak yang sangat terasa tentu saja kepada industri padat karya yang mempekerjakan banyak tenaga kerja.
”Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis dan kongkrit untuk mengatasi permasalahan industri padat karya yang melibatkan banyak tenaga kerja, sehingga merek tetap dapat hidup dan masyarakat tetap mendapatkan pekerjaan,” harapnya.





