CUACA ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi dan lama serta angin kencang tentu menimbulkan kerugian ekonomi dan fisik yang tidak sedikit, baik bagi rumah tangga (penduduk) maupun infrastruktur.
Hal ini terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Pada hujan ekstrem yang terjadi di wilah DIY pada Jumat (29/3/2025) malam juga mengakibatkan banjir di sejumlah daerah. Ketinggian air mencapai perut orang dewasa.
Berapa nilai kerugian tentu perlu dihitung secara cermat, tetapi karena kondisi ekstrem terjadi di hari-hari seputar Lebaran maka magnitude kerugian dapat menjadi lebih besar karena beberapa hal.
Pertama, banjir mengganggu pergerakan masyarakat khususnya pemudik sehingga waktu tempuh misalnya dapat menjadi lebih lama ataupun kerusakan kendaraan.
Sementara di hari-hari Lebaran kemacetan sudah rutin terjadi, kini biaya transportasi dapat menjadi lebih tinggi akibat cuaca ekstrem.
Korban Bencana
Kedua, di tengah daya beli masyarakat yang tak kunjung membaik, cuaca ekstrem makin memperlemah daya beli mereka yang langsung terkena atau menjadi korban banjir ataupun angin kencang seperti mengalami kerusakan rumah.

Ketiga, infrastruktur seperti jalan menjadi rusak karena banjir, sementara jalur yang aman menjadi bertambah bebannya karena lalu-lintas pemudik digeser melalui jalur tersebut.
Hal itu menjadi krusial ketika dihadapkan dengan pembatasan pengeluaran pemerintah untuk perbaikan atau perawatan infrastruktur.
Dengan demikian, tampaknya pemerintah tidak cukup hanya dengan mengimbau pemudik untuk mewaspadai cuaca ekstrem di masa Lebaran.
Ke depan perlu pula secara khusus memikirkan mitigasi bencana alam dalam kaitannya pergerakan penduduk dalam skala besar seperti mudik Lebaran.
- Prof Aloysius Gunadi Brata, Guru Besar FBE UAJY, Pengurus Pusat ISEI, disampaikan menanggapi bencana banjir yang terjadi Jumat (28/3/2025) di DIY dan wilayah lain.





