GELOMBANG kekhawatiran terhadap stagflasi global kembali mengemuka setelah proyeksi ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kombinasi yang tidak nyaman, inflasi yang tetap tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Isu ini tidak lagi sekadar risiko teknikal dalam grafik ekonomi, tetapi telah menjadi pembicaraan serius di kalangan pembuat kebijakan, analis, hingga pelaku pasar dunia.
Bagi Indonesia, sinyal ini bukan hanya pantulan dari negeri seberang, melainkan peringatan dini bahwa fondasi makroekonomi kita harus siap menghadapi tekanan global yang semakin kompleks.
Stagflasi – sebuah kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingkat pengangguran yang meningkat – bukanlah skenario biasa. Dalam situasi normal, inflasi dan pengangguran bergerak berlawanan arah.
Namun ketika gejolak pasokan, kebijakan proteksionis, dan disrupsi global bercampur menjadi satu, korelasi itu bisa runtuh. Inilah yang sedang dikhawatirkan banyak pihak, tarif impor baru dari AS, meningkatnya biaya logistik global, dan tekanan geopolitik bisa menjadi pemicu stagflasi dalam skala global.
Bagi Indonesia, risiko stagflasi global memiliki dua implikasi utama yang tidak bisa diabaikan yakni pelemahan nilai tukar rupiah dan perlambatan ekspor. Dua sektor ini menjadi penopang utama stabilitas ekonomi nasional, dan keduanya sangat sensitif terhadap dinamika eksternal.
Pelemahan Rupiah
Pertama, mari kita bicara soal rupiah. Ketika inflasi di AS naik dan The Fed mempertimbangkan untuk menunda pemangkasan suku bunga, bahkan mungkin menaikkan kembali jika tekanan harga berlanjut, arus modal cenderung keluar dari negara berkembang.
Investor global akan memburu aset-aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil tinggi. Ini akan memberikan tekanan besar pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Kita sudah melihat bagaimana rupiah cenderung melemah setiap kali The Fed memberikan sinyal hawkish, apalagi jika didorong oleh kekhawatiran stagflasi yang membuat volatilitas pasar meningkat.
Pelemahan rupiah tidak berdampak tunggal. Ketika nilai tukar tertekan, biaya impor naik, tekanan inflasi domestik meningkat, dan beban utang luar negeri ikut membesar.
Di saat yang sama, Bank Indonesia menghadapi dilema, apakah menaikkan suku bunga untuk meredam depresiasi, atau mempertahankan suku bunga agar tidak menghambat pemulihan domestik.
Ketidakpastian global, jika tidak diimbangi dengan koordinasi fiskal dan komunikasi kebijakan yang kuat, dapat mengikis kepercayaan pelaku usaha dan konsumen.
- Penulis, Prof Syafruddin Karimi, Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat





