JOGJA, bisnisjogja.id – Ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan serius akibat gejolak geopolitik global dan perubahan iklim. Di tengah upaya mengejar swasembada, pemerintah mengakui bahwa distribusi industri perunggasan nasional masih mengalami ketimpangan besar, dengan 63 persen pasokan masih terpusat di Pulau Jawa.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Prof Ali Agus, menegaskan pentingnya penguatan investasi di sektor peternakan untuk mendukung program strategis nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menargetkan peningkatan ketersediaan protein hewani melalui akselerasi investasi di luar Jawa.
Guna mengatasi ketimpangan distribusi tersebut, pemerintah mulai merancang strategi kemandirian pangan berbasis pulau. Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko gangguan logistik serta mitigasi terhadap potensi wabah penyakit ternak yang dapat mengganggu stabilitas pasokan protein nasional.
Stabilisasi Harga dan Stok
Pemerintah juga mendorong peran BUMN dalam stabilisasi harga dan stok melalui pembangunan infrastruktur pasca-panen. Fasilitas seperti cold storage dan pengering jagung (dryer) akan diperkuat melalui payung hukum Perpres dan Inpres tahun 2026 demi mengendalikan harga pakan.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU), Achmad Dawami, menyebut sektor unggas sebagai infrastruktur strategis karena menyumbang 2/3 konsumsi protein masyarakat. Namun, tantangan utama tetap pada ketidakseimbangan antara supply dan demand yang kerap memicu volatilitas harga.
Permintaan daging ayam diprediksi akan melonjak signifikan seiring implementasi program Makan Bergizi Gratis. Ketua Umum Pinsar Indonesia, Singgih Januratmoko, memproyeksikan tambahan permintaan daging ayam mencapai 40.000 ton per bulan akibat kebijakan tersebut.
Meskipun permintaan naik, pelaku industri menyoroti tipisnya margin keuntungan akibat tingginya biaya produksi. Pinsar mendorong adanya revisi undang-undang untuk mengatur ulang posisi peternakan rakyat dan pola kemitraan agar tercipta ekosistem bisnis yang lebih adil bagi peternak mandiri.
Minat Anak Muda Minim
Selain regulasi harga, regenerasi peternak menjadi isu krusial di sektor agribisnis. Minimnya minat generasi muda untuk terjun langsung ke lapangan menuntut pemerintah melakukan transformasi teknologi kandang agar profesi peternak menjadi lebih atraktif dan efisien.
Dari sisi teknis medis, Guru Besar FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, menyoroti rendahnya kualitas manajemen pullet (ayam remaja) di tingkat peternak kecil. Penguatan edukasi mengenai tata laksana kesehatan dan periode bertelur dianggap mendesak untuk menjaga produktivitas.
Sebagai langkah preventif terhadap kematian massal, para peternak diimbau untuk memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) biosekuriti. Vaksinasi rutin terhadap penyakit endemik seperti Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND) tetap menjadi kunci kedaulatan industri unggas nasional.





