Dinamika Pasar Kompleks, Harga Emas di Tengah Konflik AS – Iran

oleh -11 Dilihat
Dyah Titis Kusuma Wardani PhD.(Foto: dok UMY)

JOGJA, bisnisjogja.id – Fenomena tak biasa melanda pasar komoditas global. Harga emas, yang secara tradisional dianggap sebagai aset safe haven, justru mencatatkan penurunan di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dosen Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dyah Titis Kusuma Wardani PhD menilai kondisi tersebut bukan anomali teori, melainkan cerminan dinamika pasar yang kompleks. Menurutnya, ada beberapa faktor fundamental yang menekan harga logam mulia tersebut.

”Secara teori, emas memang menjadi safe haven saat konflik. Namun, dalam kasus ini terdapat beberapa faktor yang membuat harga emas justru turun,” ujar Dyah.

Faktor pertama, ekspektasi pasar yang melihat konflik cenderung terlokalisasi. Investor menilai risiko yang ditimbulkan tidak cukup kuat untuk memicu perang global yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi secara masif.

”Karena tidak ada eskalasi besar yang mengganggu rantai pasok global, maka risk premium pada emas tidak terbentuk,” jelas Dyah mengenai rendahnya minat lindung nilai saat ini.

Menguat Sebelum Konflik

Faktor kedua berkaitan dengan perilaku pasar ”Buy the Rumor, Sell the News”. Harga emas disinyalir telah menguat lebih dulu saat isu konflik mencuat, sehingga ketika peristiwa benar-benar terjadi tanpa eskalasi baru, investor memilih langkah realistis.

”Pelaku pasar sudah masuk pada harga rendah. Saat tidak ada kejutan baru, mereka merealisasikan keuntungan (profit taking), sehingga harga turun,” ungkapnya lebih lanjut.

Dominasi penguatan dolar AS dan tingginya suku bunga global menjadi faktor ketiga. Dalam iklim bunga tinggi, daya tarik emas meredup karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) dibandingkan obligasi.

”Dalam situasi ini, dolar AS dan obligasi menjadi safe haven yang lebih menarik dibandingkan emas,” kata Dyah, merujuk pada beralihnya minat investor ke aset yang lebih likuid dan memberikan kupon.

Ia menekankan emas sering kali dijual untuk memenuhi kebutuhan likuiditas mendadak (margin call) pada aset lain. Meski harganya terkoreksi, ia menegaskan status emas sebagai pelindung nilai tetap tidak tergoyahkan dalam jangka panjang.

No More Posts Available.

No more pages to load.