Pentingnya Peningkatan Produksi Daging dan Susu Sapi

oleh -602 Dilihat
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof Dyah Maharani.(Foto: Priyo Wicaksono)

PRESIDEN Prabowo Subianto telah menetapkan 77 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJMN) periode 2025-2029. Salah satu PSN bidang peternakan yakni peningkatan produksi daging dan susu sapi.

Ada banyak program yang dapat disinergikan dengan beberapa stakeholders untuk mendukung ketahanan pangan nasional serta mengurangi ketergantungan pada impor daging dan susu.

Salah satu program, penguatan program inseminasi buatan (IB) dan transfer embrio (TE) berbasis genetik unggul yang berasal dari ternak lokal maupun eksotik, yang sudah dilaksanakan dibeberapa wilayah sumber bibit.

Program tersebut bertujuan selain meningkatkan jumlah ternak dengan lebih cepat juga meningkatkan kualitas sapi lokal dengan teknologi reproduksi, sehingga menghasilkan bibit sapi yang lebih produktif dalam produksi daging maupun susu.

Sumber Data

Selain itu, perlu juga program penguatan dan pengembangan seleksi dan pemuliaan sapi perah dan potong berbasis data genetik di seluruh wilayah sumber bibit yang sudah ditetapkan pemerintah.

Dengan membangun database genetik nasional, peternak dapat memilih bibit unggul berdasarkan produktivitas dan kualitas ternak. Database genetik nasional dapat dikoleksi datanya menggunakan aplikasi recording ternak baik yang berbasis android maupun website.

Beberapa aplikasi yang saat ini sudah dikembangkan antara lain: Sidik Peternakan, Aifarm, FIKKIA Animal MicroChip (FANCHIP) , REKS-EL (Rekording Sapi Elektronik) dan e-Recording.

Aplikasi-aplikasi tersebut sebaiknya diintegrasikan dalam satu database genetik ternak secara nasional, sehingga implementasi sistem pemantauan berbasis digital dapat membantu stakeholders termasuk pemerintah menentukan kebijakan terkait arah pengembangan breeding ternak.

Guna mendukung keberhasilan reproduksi, program peningkatan efisiensi reproduksi melalui manajemen nutrisi dan kesehatan juga menjadi salah satu usulan yang perlu dipertimbangkan.

Program ini menekankan pada optimalisasi pakan berbasis potensi lokal, penerapan teknologi deteksi birahi dan kebuntingan, serta sistem kesehatan preventif guna menekan angka keguguran dan infertilitas pada sapi.

Program Kemitraan

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, dapat diperkuat juga program kemitraan dengan peternak dalam pembibitan sapi unggul. Beberapa pola kemitraan yang saat ini sudah berkembang perlu seperti kemitraan dengan perusahaan sawit dengan program SISKAnya, pola kemitraan penggemukan sapi penggemukan sapi Bali di NTT bekerja sama dengan PUSKUD (Pusat Koperasi Unit Desa) NTT.

Contoh lain, kemitraan sapi perah di Magelang, Jawa Tengah bekerja sama dengan PT Nestle, juga kemitraan inti plasma antara peternak di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah dengan PT Sulung Ranch-CBI group.

Ada lagi, kemitraan usaha penggemukan sapi potong di PT Great Giant Livestock (GGL) Kabupaten Lampung Tengah dan lainnya yang perlu terus didukung dan dikembangkan di wilayah lain.

Melalui pembentukan kelompok pembibitan sapi berbasis wilayah, distribusi bibit unggul dapat lebih merata. Kemitraan antara pemerintah, koperasi, akademisi, dan industri peternakan juga menjadi kunci dalam penyediaan bibit berkualitas tinggi.

Usulan program-program tersebut sejalan dengan tujuan pemerintah meningkatkan produksi protein hewani nasional dan mendukung keberlanjutan peternakan di Indonesia.

Dengan sinergi antara pemerintah dan para ahli di bidang peternakan khususnya ahli reproduksi serta pemuliaan ternak, diharapkan target swasembada daging dan susu dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan.

  • Penulis, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM dan Anggota Asosiasi Ahli Reproduksi dan Pemuliaan Ternak Nasional, Prof Dyah Maharani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.